Saham Lesu, Pefindo: Investor Beralih ke Obligasi Korporasi

Jakarta, MI - Di tengah kondisi pasar saham yang belum memperlihiat peningkatan berarti, banyak investor mulai mencari alternatif investasi untuk mendapatkan keuntungan yang lebih optimal.
Salah satu instrumen investasi yang kini semakin diminati adalah obligasi korporasi, karena dinilai menawarkan imbal hasil yang menarik dengan risiko yang relatif lebih terukur.
Kepala Divisi Riset Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Suhindarto mengaku, tren peralihan minat ini menjadi salah satu alasan mengapa penerbitan obligasi korporasi tetap kuat sepanjang 2026. Hal ini juga didukung oleh kondisi suku bunga yang masih rendah, sehingga investor cenderung mencari instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi.
"Obligasi korporasi kini menjadi pilihan menarik bagi investor yang ingin tetap mendapatkan keuntungan di tengah pasar saham yang kurang bergairah," kata dia dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Dia menambahkan, dibandingkan saham yang cenderung naik turun, obligasi korporasi memberikan keunggulan berupa arus kas yang lebih pasti melalui pembayaran kupon secara rutin. Hal ini membuatnya cocok bagi investor yang mengutamakan stabilitas.
Selain itu, dari sisi keuntungan, imbal hasil (yield) obligasi korporasi saat ini masih tergolong kompetitif, bahkan lebih tinggi dibandingkan instrumen lain yang dipengaruhi suku bunga rendah.
"Kondisi ini membuat investor semakin tertarik untuk memindahkan sebagian dananya ke instrumen ini," ungkap dia.
Namun, ada juga risiko yang perlu diperhatikan, salah satunya pelemahan nilai tukar. Jika rupiah terus terdepresiasi, hal ini bisa memicu kenaikan inflasi (imported inflation), yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan yield.
"Secara keseluruhan, di tengah ketidakpastian pasar saham, obligasi korporasi menjadi alternatif investasi yang menarik karena menawarkan keseimbangan antara potensi keuntungan dan kestabilan," pungkas dia.
Topik:
