Ekonom: Kebijakan BI Efektif Redam Gejolak, tapi Rupiah Rentan

Jakarta, MI - Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai langkah kebijakan Bank Indonesia (BI) cukup efektif dalam meredam tekanan dari faktor eksternal, meskipun belum mampu menghilangkannya sepenuhnya.
Menurutnya, kebijakan seperti menahan suku bunga, membeli Surat Berharga Negara (SBN), serta meningkatkan lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) berhasil menjadi “peredam” gejolak pasar.
Di saat yang sama, BI juga aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik di dalam maupun luar negeri, melalui instrumen seperti NDF, DNDF, transaksi spot, hingga pembelian SBN di pasar sekunder.
Langkah ini didukung oleh posisi cadangan devisa Indonesia yang cukup kuat, yakni mencapai 148,3 miliar dolar AS per akhir Maret 2026.
Meski demikian, Josua menilai tekanan eksternal masih membayangi, terutama dari faktor geopolitik global.
"Kondisi ini membuat nilai tukar rupiah tetap rentan dan potensi arus keluar modal asing masih terbuka," ungkap dia dalam keterangan resminya, Rabu (22/4/2026).
Dia memperkirakan ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga ke depan semakin terbatas, bahkan bisa tertunda.
"Dalam kondisi saat ini, menjaga suku bunga tetap stabil dinilai lebih penting untuk mempertahankan daya tarik aset rupiah," ungkap Josua.
Stabilnya suku bunga juga membantu menjaga selisih imbal hasil dengan negara lain, menahan keluarnya dana asing, serta menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali.
Josua menambahkan, peluang penurunan suku bunga baru akan terbuka jika beberapa faktor membaik secara bersamaan.
Di antaranya adalah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, stabilnya harga minyak, penguatan rupiah, arus modal asing yang lebih konsisten, serta kejelasan arah kebijakan suku bunga global.
Selama kondisi tersebut belum tercapai, BI diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga di level saat ini untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Topik:
