BREAKINGNEWS

Perbankan RI Tetap Tangguh Hadapi Gejolak Timur Tengah

Perbankan RI Tetap Tangguh Hadapi Gejolak Timur Tengah
Ilustrasi perbankan nasional. (Foto: Dok MI)

Jakarta, MI - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menegaskan kondisi perbankan nasional masih solid dan mampu menghadapi risiko dari gejolak global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah.

"Ketahanan perbankan terlihat dari likuiditas yang memadai, permodalan yang kuat, serta risiko kredit yang tetap terkendali," kata dia dalam konferensi pers secara online, Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Dia menjelaskan, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan pada Februari 2026 berada di level tinggi, yakni 25,83%. 

"Angka ini dinilai sangat kuat untuk menyerap potensi risiko sekaligus mendukung ekspansi kredit," ungkap dia.

Di sisi lain, kualitas kredit juga tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat rendah, masing-masing sebesar 2,17% secara bruto dan 0,83% secara neto.

Lanjut dia menyatakan, hasil uji ketahanan (stress test) yang dilakukan Bank Indonesia juga menunjukkan bahwa sektor perbankan tetap kuat dalam menghadapi berbagai skenario risiko, termasuk dampak rambatan dari ketidakpastian global. 

"Hal ini didukung oleh kondisi korporasi yang masih memiliki kemampuan bayar dan tingkat profitabilitas yang baik," tegas Perry.

Untuk menjaga stabilitas ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat kebijakan makroprudensial serta meningkatkan koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

"Langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas sistem keuangan nasional sekaligus memastikan sektor perbankan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi," jelas Perry.

Pertumbuhan Kredit Perbankan

Hingga Maret 2026, kredit perbankan tercatat tumbuh 9,49% secara tahunan atau year on year (yoy), meningkat dibandingkan Februari yang sebesar 9,37% (yoy).

"Kenaikan ini didorong oleh seluruh jenis kredit, terutama kredit investasi yang melonjak 20,85% (yoy). Sedangkan kredit modal kerja tumbuh 4,38% yoy dan kredit konsumsi naik 5,88% (yoy)," ujar Perry.

Perry menjelaskan, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 akan berada di kisaran 8% hingga 12%, didukung oleh sisi permintaan maupun penawaran.

Dari sisi permintaan, peluang ekspansi kredit masih terbuka lebar. Hal ini terlihat dari besarnya fasilitas pinjaman yang belum dimanfaatkan (undisbursed loan) yang mencapai Rp2.527,46 triliun atau sekitar 22,59% dari total plafon kredit.

Sementara itu, dari sisi penawaran, kapasitas perbankan dalam menyalurkan kredit dinilai masih kuat.

"Kondisi ini didukung oleh rasio likuiditas (AL/DPK) yang mencapai 27,85% serta pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tetap tinggi, yakni 13,55% (yoy) pada Maret 2026," jelas dia.

Perry menyebut, minat perbankan untuk menyalurkan kredit juga masih terjaga, tercermin dari persyaratan kredit yang relatif longgar. Namun, penyaluran pada segmen kredit konsumsi dan UMKM masih lebih selektif karena tingkat risiko yang lebih tinggi.

Ke depan, BI akan terus memperkuat kapasitas pendanaan perbankan, termasuk melalui pengembangan sumber dana di luar DPK.

Topik:

Dian Ihsan

Penulis

Video Terbaru