Pemerintah Siapkan Langkah Hadapi Kondisi Global yang Tak Menentu

Jakarta, MI - Perekonomian global diperkirakan melambat pada 2026, disertai tekanan inflasi tinggi dan ketidakpastian yang meningkat. Kondisi ini dipicu oleh ketegangan geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah, yang berdampak pada naik-turunnya harga komoditas, pasar keuangan, serta gangguan rantai pasok dunia.
Meski begitu, Indonesia dinilai masih cukup kuat menghadapi tekanan tersebut. Risiko resesi Indonesia pada April 2026 diperkirakan berada di bawah 5%, lebih rendah dibandingkan sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso menyampaikan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah untuk menghadapi kondisi global yang tidak menentu. Ia mewakili Airlangga Hartarto dalam sebuah kuliah umum di Jakarta.
"Pemerintah sudah menyiapkan berbagai skenario untuk merespons situasi global. Semua langkah dilakukan secara hati-hati agar stabilitas ekonomi tetap terjaga," ujar dia dalam keterangan resminya, Kamis (30/4/2026).
Pemerintah juga telah mengambil sejumlah kebijakan cepat, seperti memberikan insentif fiskal, termasuk pembebasan bea masuk untuk bahan baku strategis seperti LPG dan plastik.
Selain itu, deregulasi dan percepatan perizinan juga dilakukan untuk mendorong investasi.
Di sisi lain, pemerintah berupaya menjaga daya beli masyarakat dengan memastikan harga energi tetap stabil serta menyiapkan program perlindungan sosial dan stimulus ekonomi.
Untuk mempercepat respons terhadap dinamika global, pemerintah membentuk Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga. Satgas ini bertugas mengambil keputusan strategis secara cepat dan terkoordinasi.
Melalui langkah-langkah tersebut, pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, melindungi masyarakat, dan memastikan dunia usaha tetap berjalan di tengah tantangan global yang terus berkembang.
Topik:
