BI Ungkap Penyebab Rupiah Tembus Rp17.400 per Dolar AS

Jakarta, MI - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menjelaskan penyebab pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp17.400 per dolar AS.
Perry menyebut pelemahan terjadi karena adanya tekanan jangka pendek terhadap rupiah akibat faktor global dan musiman.
Dari sisi global, tekanan muncul karena harga minyak dunia yang masih tinggi, kenaikan suku bunga Amerika Serikat, serta penguatan dolar AS.
Selain itu, faktor musiman turut memperbesar permintaan dolar di dalam negeri. Di antaranya kebutuhan devisa untuk repatriasi dividen, pembayaran utang, dan kebutuhan jemaah haji.
"Faktor globalnya apa yang menyebabkan tekanan nilai tukar dalam jangka pendek ini? Adalah satu, harga minyak yang tinggi. Dua, suku bunga Amerika yang juga meningkat tinggi. Yield US Treasury 10 tahun sekarang adalah 4,47 persen. Demikian juga dolar yang menguat," ungkapnya.
Meski demikian, Perry menegaskan bahwa rupiah saat ini sebenarnya berada pada kondisi undervalued dan berpotensi menguat seiring fundamental ekonomi Indonesia yang masih solid.
Untuk menjaga stabilitas, BI menyiapkan strategi penguatan rupiah, salah satunya membatasi pembelian dolar AS.
Pertama adalah memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik di dalam negeri maupun luar negeri untuk menstabilkan rupiah.
"Cadangan devisa kami lebih, jadi cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah itu," katanya di kompleks Istana, dikutip Rabu (6/5/2026).
Langkah kedua dan ketiga difokuskan pada penguatan arus modal dan koordinasi fiskal-moneter.
Perry menjelaskan, BI mendorong peningkatan inflow melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menutup outflow dari Surat Berharga Negara (SBN) dan saham, serta terus melakukan pembelian SBN di pasar sekunder.
"Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year to date adalah Rp123,1 triliun. Kami akan melakukan koordinasi termasuk nanti Pak Menteri Keuangan bisa melakukan masalah buyback dan segala macam. Koordinasi sangat erat antara fiskal dan moneter," tuturnya.
Sementara itu, langkah keempat dan kelima diarahkan pada penjagaan likuiditas perbankan yang tetap longgar, serta pembatasan pembelian dolar AS di pasar domestik.
Adapun langkah keenam dan ketujuh mencakup penguatan intervensi di pasar offshore serta peningkatan pengawasan terhadap aktivitas perbankan dan korporasi. Selain itu, pengawasan diperketat melalui koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.
"Yang terutama kami lihat bank-bank korporasi yang aktivitas pembelian dolarnya tinggi, kami kirim pengawas ke sana koordinasi dengan Bu Frederika Widyasari Ketua OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga," pungkasnya.
Topik:
