BREAKINGNEWS

Rupiah Sempat Melemah ke Rp17.400 per USD, Ekonom: BI Dilema Kebijakan

Rupiah Sempat Melemah ke Rp17.400 per USD, Ekonom: BI Dilema Kebijakan
Ilustrasi rupiah. (Foto: Dok. Istimewa)

Jakarta, MI - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menembus Rp17.400 per USD membuat Bank Indonesia (BI) dalam posisi sulit. Di tengah tekanan global dan domestik, bank sentral dihadapkan pada dilema antara menjaga stabilitas harga atau mendorong pertumbuhan ekonomi.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Eddy Junarsin, menjelaskan pelemahan rupiah terjadi akibat kombinasi berbagai faktor. Dari dalam negeri, tekanan datang dari inflasi, utang luar negeri, cadangan devisa, hingga menyusutnya surplus neraca perdagangan.

Sementara dari sisi global, kenaikan harga minyak dunia dan kebijakan suku bunga tinggi oleh Federal Reserve membuat investor cenderung memindahkan dana ke AS yang dianggap lebih aman.

"Dalam kondisi seperti ini, arus modal asing biasanya mengalir ke negara yang lebih stabil seperti AS," kata dia dalam keterangan resminya, seperti diberitakan Rabu (6/5/2026).

Di tengah situasi tersebut, BI menghadapi pilihan yang tidak mudah. Jika suku bunga diturunkan, pertumbuhan ekonomi bisa terdorong, namun risiko inflasi meningkat. Sebaliknya, jika suku bunga dinaikkan, inflasi dapat ditekan, tetapi pertumbuhan ekonomi berpotensi melambat dan pengangguran meningkat.

Karena itu, kebijakan moneter harus diambil secara hati-hati dan bertahap. Intervensi di pasar valuta asing juga perlu dilakukan secara terukur agar tidak menguras cadangan devisa atau menurunkan kepercayaan pasar.

Meski rupiah melemah, kondisi ini tidak sepenuhnya berdampak negatif. Produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global sehingga dapat mendorong ekspor dan menarik investasi asing. 

Namun, sektor yang bergantung pada impor, seperti energi dan bahan baku justru menghadapi kenaikan biaya.

Eddy menilai tekanan terhadap rupiah saat ini masih bersifat jangka pendek. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini berisiko memicu kepanikan pasar yang dapat memperparah pelemahan nilai tukar.

Ia menegaskan, BI tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan pemerintah melalui kebijakan fiskal, seperti pengelolaan anggaran dan utang yang sehat, sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Di sisi lain, investor juga diminta lebih berhati-hati dalam menyusun strategi. Diversifikasi aset, termasuk ke instrumen global, menjadi 
langkah penting untuk mengurangi risiko di tengah ketidakpastian.

"Koordinasi kebijakan dan komunikasi yang jelas dari pemerintah menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas ekonomi," tutup dia.

Topik:

Dian Ihsan

Penulis

Video Terbaru

Rupiah Turun ke Rp17.400 per USD, Ekonom: BI Alami Dilema | Monitor Indonesia