Rupiah Turun ke Rp17.382 per USD, Banyak Dipengaruhi Global

Jakarta, MI - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali ditutup melemah pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Rupiah mengalami penurunan 49 poin ke level Rp17.382 per USD dibanding penutupan sebelumnya.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah pekan depan masih akan fluktuatif dan berpotensi bergerak di kisaran Rp17.380 hingga Rp17.430 per USD.
Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah masih dipengaruhi sejumlah sentimen global dan domestik.
"Salah satu yang menjadi perhatian pasar adalah kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, terutama terkait ketegangan di sekitar Selat Hormuz," kata dia dalam keterangan resminya, Jumat (8/5/2026).
Sebelumnya, kedua negara disebut hampir mencapai kesepakatan yang berpotensi mengakhiri konflik dan membuka kembali akses penuh Selat Hormuz. Jalur ini sangat penting karena dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Namun, situasi kembali memanas setelah terjadi serangan terhadap kapal tanker minyak Iran dan beberapa wilayah sipil di sekitar kawasan tersebut. Iran menuding Amerika Serikat (AS) melanggar kesepakatan gencatan senjata, sementara AS menyebut serangan itu sebagai respons atas aksi Iran terhadap kapal militernya.
Meski demikian, Presiden AS Donald Trump menegaskan gencatan senjata masih tetap berlaku.
Ibrahim menilai pasar masih melihat konflik Timur Tengah sebagai risiko besar karena berkaitan langsung dengan distribusi energi global dan harga minyak dunia.
Dari dalam negeri, pasar juga mencermati kondisi fiskal Indonesia, terutama terkait peningkatan utang pemerintah. Hingga 31 Maret 2026, total utang pemerintah tercatat mencapai Rp9.920,42 triliun atau naik hampir 3 persen dibanding akhir 2025.
Sedangkan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di level 40,75 persen. Meski masih di bawah batas aman internasional sebesar 60 persen terhadap PDB, sejumlah lembaga pemeringkat global mulai memperhatikan besarnya beban pembayaran bunga utang pemerintah.
Selain itu, defisit APBN hingga kuartal I-2026 tercatat mencapai Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen terhadap PDB. Realisasi pembiayaan utang pemerintah juga telah mencapai Rp258,7 triliun.
Menurut Ibrahim, kondisi fiskal dan kebutuhan pembiayaan pemerintah ke depan menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi pergerakan rupiah di pasar keuangan.
Topik:
