Jakarta, MI - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Mata uang Garuda dibuka turun 0,42 persen ke level Rp17.486 per USD.
Tekanan terhadap rupiah terus berlanjut hingga pukul 09.44 WIB. Rupiah tercatat melemah lebih dalam sebesar 0,52 persen ke posisi Rp17.505 per USD.
Bahkan berdasarkan data Bloomberg, rupiah saat ini berada di posisi Rp17.514 per USD, dan sempat menyentuh Rp17.517 per USD. Pelemahan rupiah saat ini bukan hanya rekor di tahun 2026, tapi sepanjang masa.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah proposal perdamaian dari Presiden AS Donald Trump kepada Iran ditolak.
"Trump menolak proposal balasan terbaru dari Teheran dan menyebut respons Iran tidak dapat diterima. Hal ini membuat harapan meredanya konflik di kawasan Teluk kembali memudar,” ujar Ibrahim kepada media.
Dalam proposal awalnya, pemerintah AS disebut meminta Iran menghentikan aktivitas pengayaan uranium selama 20 tahun, menghapus stok uranium berkadar tinggi, serta membongkar fasilitas nuklir utama sebagai imbalan pencabutan sanksi dan penghentian aksi militer.
Namun, Iran justru mengajukan syarat balasan berupa pencabutan sanksi ekonomi, penghentian kehadiran militer AS di sekitar Selat Hormuz, jaminan keamanan, serta pengakuan hak Iran untuk tetap menjalankan sebagian aktivitas nuklir.
Selain faktor global, Ibrahim menilai pergerakan rupiah juga dipengaruhi sentimen domestik. Salah satunya berasal dari hasil Survei Konsumen
Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih tetap terjaga.
Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 yang berada di level 123,0, sedikit naik dibandingkan Maret 2026 sebesar 122,9.
"Level indeks di atas 100 menandakan masyarakat masih optimistis terhadap kondisi ekonomi nasional,” jelasnya.

