BREAKINGNEWS

Rupiah Tembus Rp17.500 per USD, Kemenkeu Siap Bantu BI

Rupiah Tembus Rp17.500 per USD, Kemenkeu Siap Bantu BI
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam acara konferensi pers mengenai kebijakan harga BBM bersubsidi dan transportasi udara di Jakarta, Senin (6/4/2026). (Foto: Dok Istimewa)

Jakarta, MI - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah siap membantu Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar obligasi domestik.

Pada perdagangan Selasa (12/5/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka melemah 0,42% ke level Rp17.486 per USD. 

Hingga pukul 09.44 WIB, tekanan terhadap rupiah semakin besar dengan pelemahan mencapai 0,52% ke posisi Rp17.505 per dolar AS. Bahkan rupiah sempat menyentuh Rp17.515 per USD berdasarkan data Bloomberg.

Purbaya mengatakan pemerintah kemungkinan akan mulai membantu stabilisasi pasar dengan masuk ke pasar obligasi atau bond market.

"Kita bisa mulai membantu BI mungkin besok dengan masuk ke pasar obligasi," ujarnya kepada media di Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Selasa (11/5/2026).

Menurut dia, salah satu langkah yang akan dioptimalkan adalah penggunaan instrumen Bond Stabilization Fund (BSF). Instrumen ini digunakan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik di tengah tekanan global dan gejolak nilai tukar.

“Itu melalui Bond Stabilization Fund (BSF). Tapi belum semua dana dan instrumen yang kita miliki diaktifkan,” jelasnya.

Purbaya menegaskan pemerintah akan mendukung langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah, meski dilakukan secara terbatas dan bertahap.

“Kita akan berupaya mengendalikan nilai tukar. Kita bantu BI sedikit-sedikit kalau memang bisa,” katanya.

Di sisi lain, ia memastikan pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp17.500 per dolar AS masih belum memberikan tekanan besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama untuk subsidi energi.

Menurutnya, asumsi nilai tukar dalam perhitungan APBN 2026 memang sudah memperhitungkan kemungkinan rupiah berada di level yang lebih lemah dibanding sebelumnya. Karena itu, kondisi fiskal pemerintah dinilai masih cukup aman.

“Waktu menyusun APBN, asumsi kurs rupiah memang sudah dibuat lebih tinggi. Jadi kalaupun melemah, dampaknya masih relatif aman bagi APBN,” tutupnya.

Topik:

Dian Ihsan

Penulis

Video Terbaru