Jakarta, MI - Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp17.529 per USD pada perdagangan Selasa (12/6/2026). Pelemahan itu banyak diakibatkan konflik yang terjadi di timur tengah.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti mengatakan memanasnya konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Destri mengaku, meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperbesar ketidakpastian ekonomi global.
"Konflik di Timur Tengah yang semakin meningkat membuat harga minyak naik dan memicu ketidakpastian global," kata dia dalam keterangan resminya, Selasa (12/5/2026).
Selain faktor global, BI juga melihat adanya peningkatan kebutuhan dolar AS di dalam negeri yang bersifat musiman.
Permintaan valuta asing (valas) itu berasal dari berbagai kebutuhan, seperti pembayaran utang luar negeri, pembagian dividen perusahaan, hingga kebutuhan dana untuk pelaksanaan ibadah haji.
Kondisi tersebut membuat permintaan dolar di pasar domestik meningkat dan memberi tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
Meski begitu, BI memastikan akan terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali.
Salah satu strategi yang dilakukan adalah smart intervention melalui pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), dan Non Deliverable Forward (NDF).
Selain itu, BI juga mengoptimalkan berbagai instrumen operasi moneter untuk meredam gejolak nilai tukar.
Di tengah tekanan terhadap rupiah, Destry mengatakan kepercayaan investor asing terhadap aset keuangan Indonesia sebenarnya masih cukup baik.
Hal itu terlihat dari masuknya aliran modal asing (capital inflow) ke pasar domestik, terutama ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Selama April 2026, arus modal asing yang masuk tercatat mencapai Rp61,6 triliun.
BI juga menilai likuiditas valuta asing di dalam negeri masih memadai. Hingga akhir Maret 2026, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valas tercatat mencapai 10,9 persen secara tahunan atau year to date (ytd).
“BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah dapat kembali bergerak sesuai fundamentalnya,” tutup Destry.

