Jakarta, MI - Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan mencapai salah satu level terlemahnya sepanjang sejarah. Hingga penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026), rupiah tercatat berada di posisi Rp17.529 per USD.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menilai tekanan terhadap rupiah saat ini terutama dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah serta penguatan dolar AS secara global.
"Kondisi global, terutama dampak konflik Timur Tengah, memang menjadi faktor utama pelemahan rupiah," kata dia dalam keterangan resminya, Selasa (12/5/2026).
Menurut Josua, tekanan terhadap rupiah semakin besar karena Indonesia masih cukup bergantung pada impor energi.
Ketika harga minyak dunia naik, risiko inflasi ikut meningkat, beban subsidi energi bertambah, dan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi semakin berat.
Dia mengingatkan pemerintah perlu berhati-hati dalam menentukan kebijakan harga BBM subsidi. Sebab, kenaikan harga BBM dapat langsung berdampak pada inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat.
"Kalau harga BBM dinaikkan, dampaknya akan langsung terasa terhadap inflasi dan konsumsi masyarakat,” jelasnya.
Sedangkan Permata Institute for Economic Research (PIER) memperkirakan risiko fiskal pemerintah akan semakin besar apabila harga minyak mentah bertahan di atas USD100 per barel dan rupiah terus melemah.
Dalam simulasi yang dilakukan PIER, tambahan defisit APBN bahkan diperkirakan bisa menembus lebih dari Rp200 triliun apabila kurs rupiah berada di kisaran Rp17.400 per USD dan harga minyak mencapai 100 dolar AS per barel.
Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman mengatakan kondisi tersebut dapat memberikan tekanan besar terhadap kemampuan fiskal pemerintah.
"Jika rupiah terus melemah hingga Rp17.500 per USD dan harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS per barel, maka tekanan terhadap fiskal pemerintah akan semakin berat," tutup dia.

