Jakarta, MI - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan pekan ini dan berpotensi menguji level 6.700.
Phintraco Sekuritas menilai sentimen global, mulai dari kenaikan yield obligasi Amerika Serikat (AS) hingga tensi geopolitik AS-Iran, masih menjadi faktor utama yang membebani pasar saham domestik.
Dalam risetnya, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak di area resistance 6.800, pivot 6.700, dan support 6.500.
“Jika IHSG turun menembus level 6.700, indeks berpotensi bergerak menuju area 6.500-6.550 dalam jangka pendek,” tulis Phintraco Sekuritas.
Tekanan pasar disebut masih berasal dari pelemahan bursa Wall Street pada akhir pekan lalu akibat aksi ambil untung di saham teknologi serta naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Selain itu, pasar juga merespons negatif pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dinilai belum menghasilkan kesepakatan besar.
Phintraco Sekuritas juga menyoroti lonjakan yield obligasi AS tenor 30 tahun yang sempat menyentuh 5,1 persen di tengah kekhawatiran inflasi dan potensi kenaikan suku bunga akibat naiknya harga minyak dunia.
Harga minyak mentah sendiri melonjak lebih dari 3 persen setelah belum tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran terkait isu geopolitik dan energi global.
Menurut Phintraco Sekuritas, ketegangan AS-Iran diperkirakan masih akan memengaruhi pergerakan pasar global dalam beberapa waktu ke depan.
Pelaku pasar juga menantikan sejumlah data penting global, seperti risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC Minutes) dan laporan keuangan NVIDIA untuk melihat arah kebijakan suku bunga The Fed setelah inflasi AS tercatat lebih tinggi dari perkiraan.
Dari China, investor akan mencermati data industrial production dan retail sales. Sementara Bank Sentral China diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga pinjaman utama tenor satu tahun di level 3 persen dan tenor lima tahun di 3,5 persen.
"Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20 Mei 2026 yang diperkirakan mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen," kata Phintraco Sekuritas.
Selain itu, investor juga menunggu data pertumbuhan kredit, transaksi berjalan kuartal I-2026, serta jumlah uang beredar (M2).
Di tengah kondisi tersebut, Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang layak dicermati pekan ini, yakni PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), PT Solusi Kemasan Digital Tbk (SUPA), dan PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL).

