BREAKINGNEWS

Gubernur BI Perry Warjiyo Didesak Mundur Jika Rupiah Terus Melemah

Gubernur BI Perry Warjiyo Didesak Mundur Jika Rupiah Terus Melemah
Gubernur BI, Perry Warjiyo. (Foto: Dok Istimewa)

Jakarta, MI - Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok memperoleh kritikan tajam dari salah satu Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PAN, Primus Yustisio.

Primus mengkritik kinerja Bank Indonesia (BI) setelah nilai tukar rupiah menyentuh level terlemah sepanjang sejarah. Pada perdagangan Senin (18/5/2026), rupiah sempat melemah hingga Rp17.680 per USD. Di saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sempat anjlok 4% ke level 6.398.

Primus menilai kondisi tersebut menunjukkan lemahnya respons bank sentral dalam menghadapi tekanan global, termasuk dampak konflik geopolitik AS-Iran.

"Nilai tukar rupiah kita jeblok dan sekarang berada di rekor terendah terhadap dolar AS. Sementara banyak indeks saham dunia sudah rebound, bahkan sudah kembali menguat," kata Primus saat rapat bersama DPR dengan Gubernur BI di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, pasar Indonesia justru masih tertinggal dibanding negara lain yang mulai pulih dari tekanan global.

"Indonesia saat ini masih minus sampai 20 persen. Ini membuat pasar global mempertanyakan kualitas Bank Indonesia sebagai bank sentral," ujar dia..

Primus juga meminta BI segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Bahkan, ia menilai kredibilitas BI mulai dipertanyakan publik karena dianggap lambat merespons pelemahan rupiah dan IHSG.

"Menurut saya, Bank Indonesia saat ini mulai kehilangan trust dan kredibilitas," jelas dia.

Tak hanya itu, Primus juga melontarkan pernyataan mengejutkan dengan menyarankan Gubernur BI, Perry Warjiyo, mempertimbangkan mundur dari jabatannya jika tidak mampu memperbaiki kondisi ekonomi saat ini.

"Kalau mengambil langkah gentleman itu bukan penghinaan. Mungkin sekarang saatnya bapak mengundurkan diri," tegas dia.

Menanggapi kritik tersebut, Perry Warjiyo tetap optimistis rupiah akan kembali menguat dalam beberapa bulan ke depan. Ia menilai tekanan terhadap rupiah saat ini hanya bersifat sementara.

“Kami meyakini nanti akan ada penguatan kembali, kemungkinan pada Juli atau Agustus,” ujar Perry dalam rapat kerja tersebut.

Menurut Perry, pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan meningkatnya kebutuhan valuta asing pada periode April hingga Juni. Ia menjelaskan tingginya permintaan dolar dipicu kebutuhan pembayaran dividen perusahaan, cicilan utang luar negeri, hingga kebutuhan musim haji.

“April sampai Juni biasanya permintaan devisa memang meningkat karena pembayaran dividen, pembayaran utang, dan kebutuhan jemaah haji. Jadi ini faktor musiman,” jelasnya.

Perry juga menilai nilai tukar rupiah saat ini sebenarnya berada di bawah nilai fundamental ekonomi Indonesia atau undervalue.

Topik:

Dian Ihsan

Penulis

Video Terbaru

Gubernur BI Didesak Mundur Jika Rupiah Terus Melemah | Monitor Indonesia