Jakarta, MI - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada Bank Indonesia (BI). Menurutnya, tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi faktor global dan domestik yang saling berkaitan.
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp17.734 per USD pada perdagangan Selasa (19/5/2026) siang.
Faisal mengatakan, menjaga stabilitas nilai tukar memang menjadi tugas BI. Namun, faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah jauh lebih luas dan juga berkaitan dengan kebijakan pemerintah, mulai dari kondisi makroekonomi, indikator ekonomi nasional, hingga tingkat kepercayaan pasar terhadap tata kelola dan kebijakan fiskal.
“Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dipengaruhi kondisi domestik yang perlu menjadi perhatian bersama,” ujar Faisal.
Ia menjelaskan, meningkatnya tensi geopolitik global memang menekan mata uang negara berkembang. Namun, pelemahan rupiah dinilai lebih dalam dibanding sejumlah negara emerging markets lainnya.
Menurut Faisal, mata uang Thailand, Filipina, dan Korea Selatan memang ikut melemah, tetapi tidak sedalam rupiah. Bahkan, ringgit Malaysia justru cenderung menguat di tengah gejolak pasar global saat ini.
Kondisi tersebut, lanjutnya, menunjukkan bahwa faktor domestik turut berperan besar terhadap tekanan yang dialami rupiah. Karena itu, pemerintah dan DPR diminta tidak hanya melihat persoalan kurs dari sisi Bank Indonesia semata.
“Kalau hanya melihat stabilitas kurs sebagai tugas BI, maka akan sangat mudah menyalahkan Bank Indonesia atau menganggap pergantian gubernur BI bisa langsung menyelesaikan masalah,” katanya.
Faisal menilai yang paling penting saat ini adalah memperbaiki akar persoalan dan membangun kembali kepercayaan pasar. Ia mengingatkan, kondisi pasar tidak akan membaik jika semua pihak hanya saling menyalahkan.
Menurutnya, pemerintah perlu meningkatkan kepercayaan publik, investor, dan pelaku usaha terhadap kebijakan ekonomi, termasuk kebijakan fiskal. Di sisi lain, BI juga harus menjaga kredibilitas dan independensinya agar tetap dipercaya pasar.
“Jangan sampai BI sebagai lembaga independen dianggap tunduk pada intervensi politik, karena itu bisa menggerus kepercayaan pelaku pasar,” ujarnya.
Faisal menegaskan, stabilitas rupiah hanya bisa dijaga melalui sinergi yang kuat antara pemerintah dan Bank Indonesia. Ia menilai tekanan terhadap rupiah saat ini merupakan persoalan bersama yang harus diselesaikan secara kolektif, bukan dengan saling menyalahkan satu pihak.

