Jakarta, MI - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berpotensi melemah pada perdagangan Rabu (20/5/2026), setelah sehari sebelumnya anjlok 3,46% ke level 6.370,68.
Berdasarkan riset, Phintraco Sekuritas, tekanan terhadap IHSG dipicu aksi jual investor setelah muncul rumor pemerintah akan membentuk badan khusus negara untuk mengatur ekspor sejumlah komoditas strategis.
"Komoditas yang disebut-sebut akan masuk dalam pengaturan tersebut antara lain batu bara, crude palm oil (CPO), hingga mineral logam," tulis riset Phintraco Sekuritas.
Isu tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi pengendalian harga jual yang dikhawatirkan dapat menekan margin keuntungan perusahaan-perusahaan sektor komoditas.
Rumor itu juga dikaitkan dengan agenda Presiden Prabowo Subianto yang dijadwalkan hadir dalam Rapat Paripurna DPR untuk menyampaikan pidato terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027.
Agenda tersebut menjadi perhatian pasar karena merupakan kali pertama presiden menyampaikan langsung dokumen KEM-PPKF di hadapan DPR, yang biasanya dibacakan Menteri Keuangan.
Selain isu kebijakan pemerintah, pelaku pasar juga menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diumumkan hari ini.
Berdasarkan konsensus pasar, BI diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5% guna meredam tekanan terhadap rupiah.
Di sisi lain, pertumbuhan kredit per April 2026 diperkirakan meningkat menjadi 9,7% secara tahunan dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 9,49%.
Sementara itu, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG masih rawan melanjutkan koreksi ke area 6.092-6.148 sekaligus menutup gap pergerakan sebelumnya.
Untuk perdagangan hari ini, MNC Sekuritas merekomendasikan empat saham pilihan, yakni ANTM, INDF, JPFA, dan TLKM.

