Jakarta, MI - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyatakan, pemerintah akan mengambil tindakan tegas terhadap importir kedelai yang menaikkan harga secara berlebihan di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul kenaikan harga kedelai yang mulai berdampak pada para pengrajin tahu dan tempe di berbagai daerah. Kenaikan harga kedelai terjadi akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
"Kondisi ini cukup berpengaruh karena lebih dari 90% kebutuhan kedelai nasional masih bergantung pada impor," kata dia dalam keterangannya, seperti diberitakan Rabu (20/5/2026).
Amran mengatakan dirinya telah memanggil para importir kedelai dan memberikan peringatan keras agar tidak memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan berlebihan.
“Kami sudah beri tahu semua importir kedelai, kalau kamu naik semena-mena, izinmu saya cabut,” ujar Amran.
Ia memastikan pemerintah akan berupaya menjaga stabilitas harga kedelai agar harga tahu dan tempe tidak melonjak tajam meski kurs dolar sedang menguat.
Selain soal kedelai, Amran juga menyoroti praktik mafia pangan yang dinilai masih menjadi penyebab naiknya harga sejumlah komoditas di dalam negeri.
Menurutnya, kenaikan harga minyak goreng seharusnya tidak terjadi karena Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia.
“Minyak goreng saja bisa naik, padahal kita eksportir terbesar dunia. Karena itu satgas sudah saya minta turun untuk menindak,” ujarnya.

