Jakarta, MI - Lembaga pemeringkat kredit, Pefindo bersama S&P Global Ratings mengingatkan adanya tekanan global yang berpotensi memengaruhi ekonomi Indonesia pada 2026. Konflik di Timur Tengah, pelemahan rupiah, kenaikan harga energi, hingga perlambatan ekonomi negara mitra dagang menjadi sejumlah risiko yang perlu diwaspadai.
Meski begitu, keduanya menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan tersebut.
Hal itu disampaikan dalam seminar tahunan Annual Indonesia Credit Spotlight keempat yang mengangkat tema Menghadapi Tantangan Geopolitik dan Ketahanan Domestik. Forum tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku industri, dan analis kredit untuk membahas prospek ekonomi nasional dan sektor keuangan ke depan.
Chief Economist Asia Pacific S&P Global Ratings, Louis Kuijs, mengatakan konflik Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga energi dunia yang bisa menghambat pertumbuhan ekonomi global.
Menurutnya, lonjakan harga energi dapat meningkatkan biaya produksi, menekan daya beli masyarakat, dan membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
“Kami memperkirakan The Fed masih akan mempertahankan suku bunga acuannya sepanjang 2026,” ujar Louis.
Ia menilai ekonomi Indonesia masih berpotensi tumbuh cukup baik karena didukung berbagai kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi domestik.
Namun, Louis mengingatkan perlambatan ekonomi di negara mitra dagang utama seperti China, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi risiko besar bagi Indonesia.
“Kami melihat pertumbuhan Indonesia masih cukup solid pada 2026 di tengah upaya pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi dan menekan dampak kenaikan harga minyak,” katanya.
S&P Global Ratings juga menilai rupiah masih berada dalam tekanan akibat keluarnya dana asing dari pasar domestik seiring investor yang masih mencermati arah kebijakan pemerintah.
Karena itu, menurut Louis, Bank Indonesia kemungkinan masih perlu memperketat kebijakan moneternya untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.
“Kami menilai bank sentral Indonesia mungkin perlu memperketat kebijakan moneter sebagai respons terhadap tekanan inflasi pangan, pelemahan rupiah, dan kebijakan pemerintah yang mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Di sektor perbankan, Director of Financial Institutions Ratings S&P Global Ratings, Ivan Tan, mengatakan dampak langsung konflik Timur Tengah terhadap bank-bank Indonesia masih relatif terbatas.
Namun, ia mengingatkan risiko kredit bisa meningkat jika gangguan energi global berlangsung lama.
“Kami memperkirakan biaya kredit bisa naik hingga sekitar 100 basis poin pada 2026-2027,” kata Ivan.
Ia menambahkan masyarakat berpenghasilan rendah dan pelaku UMKM menjadi kelompok paling rentan menghadapi tekanan ekonomi karena memiliki cadangan keuangan yang terbatas.
Meski demikian, Ivan menilai kondisi perbankan nasional masih cukup kuat dengan rasio kecukupan modal mendekati 25 persen.
Sementara itu, Associate Director Corporate Ratings S&P Global Ratings, Ker Liang Chan, menilai BUMN Indonesia diperkirakan tetap cukup tangguh sepanjang 2026.
Menurutnya, langkah konsolidasi dan penguatan modal melalui Danantara dapat membantu menjaga kualitas kredit perusahaan pelat merah.
“Langkah-langkah ini diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas kualitas kredit sektor BUMN,” ujar Liang Chan.
Ia juga menilai sektor komoditas seperti minyak, gas, dan logam berpotensi diuntungkan oleh kenaikan harga global. Namun, risiko regulasi di sektor tambang, sawit, dan logam masih menjadi perhatian investor.
Di sisi lain, Kepala Divisi Pemeringkatan Jasa Keuangan PEFINDO, Danan Dito, mengatakan harga energi yang tinggi dalam jangka panjang dapat menekan daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan sektor keuangan.
“Harga minyak yang tinggi dalam waktu lama bisa menekan kepercayaan konsumen, daya beli, dan kemampuan masyarakat membayar kewajiban,” ujarnya.

