Jakarta, MI – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau Bank Tabungan Negara bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) resmi menggulirkan proyek besar hunian berbasis Transit Oriented Development (TOD) di sejumlah kota strategis Indonesia.
Kolaborasi dua BUMN tersebut ditargetkan menghadirkan lebih dari 5.400 unit hunian vertikal terintegrasi transportasi publik sebagai bagian dari dukungan terhadap Program 3 Juta Rumah Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu dan Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin di Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Proyek TOD tersebut akan dikembangkan di sejumlah kawasan strategis milik KAI, mulai dari Manggarai Jakarta, Kiaracondong Bandung, Gubeng Surabaya, hingga kawasan Dr Kariadi/Gergaji Semarang. Kawasan-kawasan itu nantinya terhubung langsung dengan moda transportasi massal seperti KRL Commuter Line, LRT, MRT, hingga Transjakarta.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu menegaskan, konsep TOD kini menjadi kebutuhan mendesak di tengah tingginya urbanisasi dan mahalnya biaya hidup masyarakat perkotaan.
“Pembangunan kota masa depan tidak lagi bisa memisahkan antara hunian, transportasi, dan pusat aktivitas ekonomi. Karena itu, konsep Transit Oriented Development atau TOD menjadi sangat relevan untuk dikembangkan di Indonesia,” ujar Nixon.
Menurut Nixon, banyak pekerja di Jakarta masih harus tinggal jauh dari pusat kota sehingga biaya transportasi menggerus hingga 20-25 persen penghasilan bulanan mereka. Karena itu, kehadiran hunian vertikal di pusat kota dinilai menjadi solusi nyata untuk menekan biaya hidup sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat urban.
Ia menambahkan, pengembangan kawasan stasiun menjadi pusat hunian dan aktivitas ekonomi telah sukses diterapkan di berbagai negara maju seperti Jepang, Singapura, dan Hong Kong.
“Model seperti ini terbukti mampu menciptakan kawasan perkotaan yang lebih efisien, produktif, sekaligus nyaman bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan proyek TOD Manggarai akan menjadi salah satu pengembangan kawasan terbesar yang mengintegrasikan hunian, pusat bisnis, area komersial, hingga fasilitas gaya hidup dalam satu kawasan modern.
“Kita menggabungkan tiga hal sebenarnya. Satu adalah perumahan vertikal yang harganya terjangkau, yang merupakan bagian dari program penting pemerintah Presiden Prabowo Subianto. Kedua, kita merealisasikan konsep TOD, Transit Oriented Development,” ujar Bobby.
Tak hanya itu, Bobby bahkan menyebut kawasan Manggarai bakal diproyeksikan menjadi pusat bisnis baru Jakarta.
“Yang ketiga, kawasan Manggarai ini kita mempunyai 62 hektare yang akan kita desain menjadi CBD keduanya Jakarta, setara SCBD,” tegas Bobby.
Dalam tahap awal, pengembangan TOD Manggarai akan dibangun di atas lahan sekitar 2,2 hektare dengan tiga tower pertama. Selanjutnya proyek akan diperluas pada area sekitar 1,6 hektare dengan pembangunan delapan tower hunian vertikal berkapasitas total sekitar 5.000 unit.
Kawasan TOD Manggarai sendiri berada di salah satu simpul transportasi terbesar di Indonesia dengan mobilitas mencapai sekitar 300 ribu penumpang per hari. Lokasi tersebut terhubung langsung dengan KRL lintas Jabodetabek, kereta bandara, LRT, Transjakarta, hingga akses menuju MRT dan kawasan bisnis Sudirman, Thamrin, serta Kuningan.
Secara keseluruhan, KAI melalui anak usahanya KAI Properti menyiapkan potensi pengembangan lebih dari 5.400 unit hunian di empat kota strategis. Rinciannya meliputi sekitar 2.200 unit di Manggarai Jakarta, 753 unit di Kiaracondong Bandung, 1.042 unit di kawasan Dr Kariadi/Gergaji Semarang, dan 1.489 unit di kawasan Gubeng Surabaya.
Hunian yang dibangun didominasi tipe dua kamar tidur dengan luas sekitar 45 hingga 54 meter persegi yang menyasar keluarga muda dan keluarga bertumbuh. Harga unit subsidi diproyeksikan mulai Rp500 jutaan, sementara unit non-subsidi dipasarkan mulai Rp700 jutaan hingga di atas Rp1 miliar tergantung lokasi dan tipe tower.
Untuk mendukung keterjangkauan masyarakat, BTN menyiapkan fasilitas KPR Rumah Susun FLPP dengan bunga tetap 6 persen per tahun dan tenor hingga 30 tahun. Melalui skema tersebut, masyarakat cukup menyediakan uang muka mulai 1 persen dengan estimasi cicilan sekitar Rp2,9 juta per bulan untuk unit seharga Rp500 juta.
Program tersebut menyasar masyarakat berpenghasilan maksimal Rp12 juta per bulan untuk lajang dan Rp14 juta per bulan bagi pasangan menikah.
Selain pembiayaan KPR, BTN juga menyiapkan dukungan Kredit Program Perumahan (KPP) bagi ekosistem usaha dan UMKM di kawasan TOD. Nilai pembiayaan yang disiapkan berkisar Rp10 juta hingga Rp500 juta untuk pembelian, pembangunan, maupun renovasi rumah yang mendukung aktivitas usaha masyarakat.
Bobby menegaskan, proyek TOD ini diharapkan menjadi jawaban atas tingginya biaya mobilitas pekerja yang selama ini terpaksa tinggal di wilayah penyangga Jakarta.
“Hari ini banyak masyarakat tinggal di luar Jakarta karena harga rumah di pusat kota sulit dijangkau. Padahal biaya transportasi dan mobilitas setiap harinya juga sangat besar. Karena itu kami ingin menghadirkan alternatif hunian yang lebih dekat, lebih efisien, dan tetap terjangkau,” tuturnya.
Saat ini BTN dan KAI juga mengklaim telah mengantongi ribuan calon peminat awal untuk proyek TOD Manggarai yang akan diverifikasi bertahap sebelum proses pemasaran resmi dimulai.

