Jakarta, MI - Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) bergerak menguat pada perdagangan Selasa (26/5/2026), mengikuti lonjakan harga minyak mentah global yang kembali menanjak dari level terendah sebelumnya.
Kenaikan ini juga ditopang oleh ekspektasi penurunan produksi CPO Malaysia pada Mei, serta melemahnya nilai tukar ringgit yang membuat harga komoditas tersebut lebih menarik di pasar internasional.
Di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Agustus tercatat naik 0,47 persen menjadi 4.494 ringgit Malaysia per ton metrik saat jeda perdagangan siang.
“Kontrak berjangka dibuka gap up mengikuti kenaikan tajam harga minyak mentah dari posisi terendah sebelumnya, prospek produksi minyak sawit Malaysia yang lebih lemah untuk Mei, serta pelemahan ringgit Malaysia,” kata Kepala Riset Komoditas Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani, seperti dikutip Reuters.
Sementara itu, pelaku pasar juga mencermati jadwal perdagangan berjangka yang akan tutup pada Rabu seiring libur Iduladha.
Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 0,17 persen, sedangkan kontrak minyak sawitnya naik 0,51 persen. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade turun 0,89 persen.
Harga minyak sawit bergerak seiring dengan pergerakan minyak nabati pesaing karena keduanya saling bersaing di pasar global.
Berdasarkan data perusahaan inspeksi AmSpec Agri Malaysia dan Intertek Testing Services, ekspor minyak sawit Malaysia pada periode 1-25 Mei tercatat turun masing-masing 18,0 persen dan 14,5 persen dibandingkan periode yang sama pada April.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent naik lebih dari 2 persen dalam perdagangan Asia pada Selasa setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran.
Kondisi itu membuat pasar tetap waspada karena kesepakatan untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz masih belum tercapai.
Kenaikan harga minyak mentah ini turut membuat minyak sawit semakin menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Di sisi lain, ringgit Malaysia sebagai mata uang perdagangan minyak sawit melemah 0,35 persen terhadap dolar AS, sehingga komoditas tersebut menjadi sedikit lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Pada Maret, Indonesia mengekspor 2,17 juta ton metrik produk minyak sawit, berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pada Senin. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 2,88 juta ton metrik.

