BREAKINGNEWS

Potensi Panas Bumi RI Masih Terpendam, 88 Persen Energi Hijau Belum Dimanfaatkan

Potensi Panas Bumi RI Masih Terpendam, 88 Persen Energi Hijau Belum Dimanfaatkan
Sekretaris Jenderal Asosiasi Panas Bumi Indonesia sekaligus COO Sarulla Operation Limited, Riza Pasikki

Jakarta, MI Indonesia ternyata masih menyimpan potensi energi panas bumi raksasa yang belum tergarap maksimal. Dari total potensi geotermal nasional mencapai 24.000 megawatt (MW), pemanfaatannya sebagai pembangkit listrik baru menyentuh sekitar 2.740 MW atau hanya 12 persen.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Panas Bumi Indonesia sekaligus COO Sarulla Operation LimitedRiza Pasikki, menegaskan peluang pengembangan energi hijau Indonesia masih sangat besar.

“Masih ada 88 persen yang belum dimanfaatkan. Masih sangat besar opportunity-nya,” ujar Riza di Jakarta, Kamis (28/5/2026).

Menurut Riza, panas bumi menjadi salah satu sumber energi paling ramah lingkungan karena menggunakan sistem siklikal. Fluida panas yang diambil dari dalam bumi untuk memutar turbin listrik akan dikembalikan lagi ke dalam tanah dan dipanaskan ulang secara alami oleh magma.

Tak hanya itu, emisi karbon pembangkit panas bumi disebut sangat kecil, hanya sekitar 0,1 persen dibanding pembangkit batu bara dengan kapasitas setara.

Industri panas bumi Indonesia sebenarnya telah berjalan lebih dari 40 tahun sejak pembangkit pertama beroperasi di Kamojang pada 1983. Potensi terbesar geotermal nasional sendiri berada di kawasan Bukit Barisan, Sumatera.

Pemerintah kini memasang target ambisius untuk mengejar komitmen Paris Agreement dan target net zero emission 2060. Dalam RUPTL 2025–2034, kapasitas panas bumi ditargetkan bertambah 5.200 MW.

“Antara 2025 sampai 2034 ditargetkan penambahan 5.200 MW. Secara target, pemerintah punya ambisi yang besar,” kata Riza.

Namun, ambisi besar itu disebut masih terbentur persoalan investasi dan regulasi harga listrik yang dinilai belum menarik bagi investor.

“Proyek IRR-nya sangat tidak atraktif, di bawah 5 persen. Jadi kita butuh insentif dari pemerintah,” tegasnya.

API mendesak pemerintah segera memberikan insentif fiskal, memperbaiki skema tarif listrik panas bumi, serta menjaga konsistensi regulasi agar investasi geotermal bisa bergerak lebih cepat.

Riza juga membantah sejumlah stigma negatif yang selama ini melekat pada industri panas bumi. Ia memastikan aktivitas geotermal tidak menyedot cadangan air masyarakat karena reservoir panas bumi berada di kedalaman 2.000–3.000 meter, jauh di bawah sumur warga.

Ia juga menepis anggapan bahwa proyek geotermal menyebabkan pembukaan hutan besar-besaran. Menurutnya, luas lahan operasional di permukaan hanya sekitar 300 hektare, jauh lebih kecil dibanding tambang batu bara terbuka.

Meski demikian, API mengakui industri panas bumi pernah mengalami insiden serius, termasuk kebocoran gas H2S di Sorik Merapi pada 2021 yang menewaskan lima orang.

“Itu adalah kelemahan yang harus kita akui dan perbaiki,” ujarnya.

API menilai pengembangan panas bumi dapat menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi daerah, terutama di wilayah dengan pasokan listrik minim seperti Maluku.

Sebagai contoh, Star Energy disebut baru menemukan potensi panas bumi baru sebesar 60 MW di Lapangan Hamidin, Maluku.

Menurut Riza, peningkatan ketahanan listrik akan membuka peluang investasi industri seperti cold storage hingga smelter.

“Geotermal bisa men-trigger kegiatan ekonomi yang pada ujungnya menghasilkan ekspor,” pungkasnya.**

Topik:

Edison Efrizal

Penulis

Video Terbaru

Potensi Panas Bumi RI Masih Terpendam, 88 Persen Energi Hija | Monitor Indonesia