BREAKINGNEWS

Ditendang MSCI dan FTSE Russell: Saham DSSA Anjlok 89% Sepanjang 2026

Ditendang MSCI dan FTSE Russell: Saham DSSA Anjlok 89% Sepanjang 2026
Lokasi tambang milik PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). (Foto: Dok. Istimewa)

Jakarta, MI - Pergerakan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) masih berada dalam tekanan berat sepanjang tahun 2026. Hingga penutupan perdagangan 26 Mei 2026, harga saham DSSA tercatat di level Rp432 per lembar atau anjlok sekitar 89,03% dibanding posisi awal tahun.

Koreksi tajam tersebut terjadi setelah saham DSSA resmi dikeluarkan dari indeks global milik MSCI Inc. dan FTSE Russell pada Mei 2026.

Pasar menyoroti kecilnya porsi saham publik atau free float DSSA yang dinilai menyebabkan likuiditas perdagangan saham menjadi sangat terbatas.

Dalam perdagangan terakhir, saham DSSA dibuka di level Rp472 dan sempat menyentuh posisi tertinggi Rp540. Namun tekanan jual kembali meningkat hingga saham ditutup di level terendah hari itu, yakni Rp432. Adapun nilai kapitalisasi pasar perseroan tercatat sekitar Rp83,22 triliun.

Tekanan terhadap saham DSSA semakin meningkat setelah sejumlah indeks global memperketat evaluasi terhadap saham-saham dengan tingkat likuiditas rendah. Keterbatasan saham yang beredar di publik menjadi salah satu alasan utama DSSA dicoret dari indeks MSCI maupun FTSE Russell.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 31 Maret 2026, struktur kepemilikan saham DSSA tergolong sangat terkonsentrasi. PT Sinar Mas Tunggal menguasai 59,90% saham perusahaan, sedangkan DSSA sendiri memiliki 19,68% saham treasury.

Selain itu, beberapa institusi seperti UOB Kay Hian, Fitzgerald & Wilkinson, dan Citibank Hong Kong juga tercatat memegang kepemilikan saham dalam jumlah besar. Dengan kondisi tersebut, saham yang benar-benar tersedia di pasar diperkirakan kurang dari 10%.

Kondisi free float yang minim membuat DSSA dianggap sulit memenuhi standar likuiditas yang diterapkan indeks global. 

Dalam metodologi MSCI dan FTSE Russell, saham dengan jumlah publik kecil dinilai memiliki risiko transaksi yang terbatas dan menyulitkan investor institusi dalam mengikuti komposisi indeks.

Sepanjang 2026, pergerakan saham DSSA juga menunjukkan volatilitas yang tinggi. Pada awal tahun, saham ini masih diperdagangkan di kisaran Rp4.000 sebelum perlahan terus melemah hingga turun ke area Rp400-an pada akhir Mei 2026.

Pencoretan DSSA dari indeks global turut menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap potensi keluarnya dana asing, terutama dari produk investasi berbasis indeks yang menggunakan acuan MSCI dan FTSE Russell.

Topik:

Dian Ihsan

Penulis

Video Terbaru

Saham DSSA Anjlok 89% Sepanjang 2026 | Monitor Indonesia