BREAKINGNEWS

Blackout Sumatera, Pakar UMY: Cermin Lemahnya Jaringan Listrik PLN

Blackout Sumatera, Pakar UMY: Cermin Lemahnya Jaringan Listrik PLN
PT PLN (Persero). (Foto: Dok. MI)

Jakarta MI - Pemadaman listrik massal (blackout) yang terjadi di delapan provinsi di Sumatera pada 22-24 Mei 2026 dinilai tidak hanya disebabkan oleh putusnya satu jalur transmisi listrik PLN. Insiden tersebut disebut mencerminkan adanya persoalan mendasar dalam sistem kelistrikan yang telah berlangsung cukup lama di tubuh PLN.

Pakar Sistem Tenaga Listrik dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rahmat Adiprasetya Al Hasibi mengatakan gangguan pada saluran transmisi 275 kV di wilayah Jambi hanyalah pemicu awal dari peristiwa tersebut.

Menurutnya, masalah utama justru terletak pada ketidakmampuan sistem untuk membatasi dan mengisolasi gangguan sejak awal, sehingga gangguan kecil berkembang menjadi pemadaman berskala besar.

"Ketika saluran transmisi terputus, aliran listrik otomatis berpindah ke jalur lain secara mendadak. Kondisi ini membuat sistem interkoneksi yang sebelumnya terhubung menjadi terpecah ke dalam beberapa subsistem yang berdiri sendiri," kata Rahmat dalam keterangan resminya, seperti diberitakan Sabtu (30/5/2026).

Akibatnya, frekuensi dan tegangan listrik menjadi tidak stabil. Kondisi tersebut kemudian memicu sejumlah pembangkit listrik keluar dari sistem (trip), yang pada akhirnya memperluas area pemadaman.

Rahmat menjelaskan sistem kelistrikan Sumatera sebenarnya telah memiliki jalur cadangan atau redundansi. Bahkan, pada beberapa wilayah tersedia dua hingga empat rangkaian transmisi.

Namun, ia mempertanyakan efektivitas jalur cadangan tersebut karena sebagian masih berada dalam koridor fisik yang sama.

Menurutnya, apabila beberapa jalur cadangan ditempatkan berdekatan dalam satu koridor, satu gangguan saja tetap berpotensi melumpuhkan seluruh jaringan sekaligus.

“Kalau jalur cadangan berada di lokasi yang sama, satu gangguan bisa berdampak ke semua rangkaian secara bersamaan,” jelasnya.

Selain persoalan redundansi, Rahmat juga menyoroti sistem proteksi jaringan yang dinilai belum optimal.

Ia menilai sistem proteksi saat ini lebih fokus melindungi peralatan secara individual dibanding mencegah gangguan menyebar ke seluruh jaringan listrik.

Dampak blackout semakin besar karena terjadi sekitar pukul 19.00 WIB, bertepatan dengan jam beban puncak ketika konsumsi listrik masyarakat sedang tinggi.

Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap sistem kelistrikan meningkat dan memperbesar risiko pemadaman meluas.

PLN Diminta Evaluasi Skenario Gangguan Besar

Untuk mencegah kejadian serupa terulang, Rahmat mendorong PLN melakukan simulasi ulang terhadap berbagai skenario gangguan besar, terutama saat sistem berada pada kondisi beban puncak.

Menurutnya, evaluasi menyeluruh diperlukan untuk mengidentifikasi titik-titik lemah dalam jaringan yang selama ini belum terdeteksi serta memperkuat ketahanan sistem kelistrikan nasional menghadapi gangguan besar di masa mendatang.

Topik:

Dian Ihsan

Penulis

Video Terbaru

Blackout Sumatera, Pakar UMY: Cermin Lemahnya Jaringan PLN | Monitor Indonesia