Jakarta, MI - Pakar ekonomi politik, Ichsanuddin Noorsy menilai pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor pasar atau kondisi ekonomi jangka pendek, tetapi juga berkaitan dengan struktur kebijakan dan sistem ekonomi yang selama ini diterapkan di Indonesia.
Menurut Ichsanuddin, terdapat lima faktor utama yang dinilai berkontribusi terhadap melemahnya rupiah. Faktor pertama adalah sistem ekonomi yang dinilai masih menyisakan berbagai persoalan mendasar.
Faktor kedua, menurutnya, berkaitan dengan kebijakan dan regulasi yang dianggap terlalu mengikuti kepentingan atau kehendak pihak asing.
Selain itu, ia menilai Indonesia juga masih sangat bergantung pada berbagai standar yang ditetapkan oleh lembaga atau institusi internasional. Ketergantungan tersebut, lanjutnya, terlihat dalam berbagai aspek pengelolaan ekonomi dan tata kelola pemerintahan.
"Rupiah jatuh karena sistem, kemudian karena kebijakan dan regulasi yang tunduk pada kemauan asing, tunduk pada standarisasi asing, serta pada ukuran akuntabilitas dan keterbukaan yang ditentukan oleh pihak asing,” ujar Ichsanuddin kepada Monitorindonesia.com, Sabtu (30/5/2026).
Ia juga menyoroti pentingnya pengakuan dari lembaga internasional terhadap kredibilitas dan reputasi ekonomi Indonesia.
"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penilaian terhadap perekonomian nasional masih sangat bergantung pada validasi dari pihak luar," ungkap dia.
Lebih lanjut, Ichsanuddin mengkritisi penggunaan berbagai indikator ekonomi yang selama ini menjadi acuan dalam menilai kondisi perekonomian Indonesia.
Menurutnya, angka-angka ekonomi sering kali tidak mampu menggambarkan realitas secara menyeluruh, terutama terkait persoalan pengangguran, kesejahteraan masyarakat, dan kondisi ekonomi riil yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
Ia berpendapat bahwa berbagai indikator ekonomi yang digunakan saat ini tidak sepenuhnya bebas dari kepentingan tertentu, sehingga perlu ditelaah secara lebih kritis.
Maka dari itu, Ichsanuddin mendorong adanya evaluasi terhadap cara pandang dan pendekatan dalam membaca kondisi ekonomi nasional agar tidak hanya bertumpu pada indikator statistik, tetapi juga mempertimbangkan kondisi nyata yang terjadi di masyarakat.
"Pemahaman yang lebih komprehensif terhadap realitas ekonomi akan membantu pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran dan mampu memperkuat ketahanan rupiah dalam jangka panjang," tutup dia.

