Jakarta, MI - Pakar sistem tenaga listrik dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rahmat Adiprasetya Al Hasibi meminta PLN segera melakukan audit menyeluruh terhadap sistem proteksi jaringan listrik Sumatera setelah terjadinya pemadaman massal (blackout) pada 22-24 Mei 2026.
Menurut Rahmat, audit tersebut menjadi langkah paling penting dan mendesak untuk mencegah gangguan serupa kembali terjadi di masa depan.
Ia menegaskan bahwa upaya penanganan tidak cukup hanya dengan memastikan blackout tidak akan terulang. PLN perlu melakukan evaluasi teknis secara menyeluruh untuk mengidentifikasi titik-titik lemah dalam sistem interkoneksi kelistrikan Sumatera.
“Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengaudit sistem proteksi yang saat ini digunakan, sekaligus mengevaluasi mekanisme respons frekuensi pada setiap pembangkit yang terhubung ke jaringan Sumatera,” ujar Rahmat dalam keterangan resminya, seperti diberitakan Sabtu (30/5/2026).
Selain mengevaluasi sistem proteksi, Rahmat juga mendorong PLN melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap jalur transmisi listrik, khususnya area right of way atau koridor aman di sepanjang jaringan tegangan tinggi.
Menurutnya, area tersebut harus terbebas dari hambatan seperti pepohonan, bangunan, maupun objek lain yang berpotensi mengganggu keandalan jaringan.
Pemeriksaan ini dinilai penting, terutama pada jalur transmisi utama yang menjadi tulang punggung sistem interkoneksi listrik di Sumatera.
PLN Diminta Simulasikan Skenario Gangguan Besar
Rahmat juga menekankan pentingnya simulasi ulang berbagai skenario gangguan besar, terutama saat beban listrik sedang berada di puncaknya.
Menurutnya, simulasi berkala akan membantu PLN memetakan risiko dan mengetahui bagian jaringan mana yang paling rentan mengalami gangguan jika terjadi kondisi darurat.
“Kita perlu mengetahui titik-titik yang paling berisiko saat gangguan besar terjadi pada beban puncak. Simulasi seperti ini seharusnya dilakukan secara rutin, bukan hanya setelah terjadi blackout,” katanya.
Dalam jangka panjang, Rahmat menilai PLN perlu berinvestasi pada teknologi pemantauan jaringan yang lebih modern, seperti Wide Area Measuring System (WAMS).
Teknologi ini memungkinkan operator memantau kondisi jaringan listrik secara real-time di wilayah yang luas, sehingga potensi gangguan dapat terdeteksi lebih cepat sebelum berkembang menjadi pemadaman besar.
Selain itu, ia juga mendorong peningkatan porsi pembangkit listrik yang lebih fleksibel, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), karena lebih cepat merespons perubahan beban listrik.
Rahmat menambahkan, pengembangan sistem penyimpanan energi berbasis baterai juga semakin penting seiring meningkatnya penggunaan energi terbarukan di Indonesia.
Lanjut dia menyatakan, semakin besar porsi energi terbarukan dalam sistem kelistrikan, semakin tinggi pula kebutuhan akan teknologi penyimpanan energi dan pembangkit yang fleksibel untuk menjaga stabilitas pasokan listrik.
“Investasi pada sistem penyimpanan energi dan pembangkit yang fleksibel sudah menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan yang bisa ditunda,” tegasnya.

