Jakarta, MI - Pelemahan tajam nilai tukar rupiah dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menuai kritik dari Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PAN, Primus Yustisio saat rapat kerja Bersama Gubernur BI, Perry Warjiyo di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Dia menilai respons Bank Indonesia (BI) terhadap tekanan pasar masih belum memadai di tengah gejolak ekonomi global.
Asal tahu saja, nilai tukar rupiah hampir menyentuh posisi Rp18.000 per USD. Pada saat yang sama, IHSG sempat bertengger di bawah 6.000 pada akhir Mei 2026.
Menurut Primus, kondisi tersebut menunjukkan pasar keuangan Indonesia tertinggal dibandingkan sejumlah negara lain yang mulai pulih dari tekanan global, termasuk dampak ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
"Rupiah berada di titik terlemah terhadap dolar AS, sementara banyak bursa saham dunia sudah mulai bangkit dan menguat kembali," ujarnya.
Ia menilai lemahnya kinerja pasar keuangan domestik membuat kepercayaan investor terhadap Indonesia menurun. Karena itu, BI didorong untuk mengambil langkah yang lebih efektif guna memulihkan sentimen pasar.
Primus bahkan menyebut kredibilitas BI mulai dipertanyakan karena dianggap belum mampu meredam tekanan terhadap rupiah dan IHSG.
"Kepercayaan pasar terhadap Bank Indonesia perlu segera dipulihkan," katanya.
Dalam rapat tersebut, Primus juga melontarkan pernyataan tegas dengan menyarankan Gubernur BI Perry Warjiyo mempertimbangkan mundur apabila dinilai tidak mampu memperbaiki kondisi yang terjadi.
Menanggapi kritik tersebut, Gubernur BI, Perry Warjiyo tetap optimistis tekanan terhadap rupiah hanya bersifat sementara.
Ia memperkirakan nilai tukar rupiah berpeluang kembali menguat pada Juli atau Agustus 2026.
Menurut Perry, pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi faktor global dan tingginya permintaan valuta asing pada periode April hingga Juni.
Ia menjelaskan kebutuhan dolar AS biasanya meningkat pada periode tersebut karena adanya pembayaran dividen perusahaan, cicilan utang luar negeri, serta kebutuhan perjalanan ibadah haji.
"April hingga Juni memang menjadi periode meningkatnya permintaan devisa karena berbagai kebutuhan pembayaran dan aktivitas musiman," jelas Perry.
Selain itu, Perry menilai posisi rupiah saat ini sebenarnya berada di bawah nilai fundamental ekonomi Indonesia atau masih tergolong undervalued.
Oleh karena itu, ia meyakini nilai tukar rupiah memiliki peluang untuk kembali menguat ketika tekanan eksternal mulai mereda.

