Jakarta, MI - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat (5/6/2026), setelah ditutup melemah 1,70% ke level 5.839,78 pada sesi sebelumnya.
Berdasarkan riset dari hintraco Sekuritas, sentimen negatif yang membayangi pasar masih cukup kuat. Ketidakpastian yang tinggi serta menurunnya kepercayaan investor membuat aksi jual diperkirakan masih berlanjut dalam jangka pendek.
"Tekanan di pasar masih cukup besar, terutama akibat berbagai sentimen dan rumor yang berkembang di dalam negeri yang memengaruhi psikologi investor," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Selain tekanan dari pasar saham, pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor yang membebani pergerakan indeks. Rupiah tercatat melemah 0,45% dan berada di level Rp18.049 per dolar AS, menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi keuangan domestik.
Dari sisi global, mayoritas bursa saham Asia juga bergerak di zona merah. Investor masih mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong kenaikan harga minyak dunia serta memicu kekhawatiran terhadap inflasi global.
Secara sektoral, seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya. Sektor industri menjadi yang paling tertekan dengan penurunan mencapai 4,07%.
Dari sisi teknikal, Phintraco Sekuritas melihat sinyal pelemahan masih cukup dominan. Indikator MACD menunjukkan pelebaran area negatif, sementara Stochastic RSI membentuk pola death cross yang umumnya menjadi sinyal lanjutan tren penurunan.
Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan masih bergerak volatil dengan kecenderungan melemah. Dalam jangka pendek, indeks berpotensi menguji area support di kisaran 5.700 hingga 5.800.
Pelaku pasar juga diperkirakan akan terus mencermati pergerakan rupiah, perkembangan geopolitik global, serta sentimen domestik yang dapat memengaruhi arah pasar saham dalam beberapa hari ke depan.

