Jakarta, MI - Anggota Komisi XI DPR RI, Wihadi mengatakan, langkah pemerintah melakukan efisiensi anggaran menjadi salah satu hal penting untuk menjaga agar defisit tetap dibawah 3 persen. Demikian dikatakan Wihadi kepada monitorindonesia.com, Minggu malam (7/6/2026)
"Saat ini range defisit masih dibawah 3 persen, kita kan harus jaga itu. Jadi defisit itu sebenarnya belum jadi indikator bahwa itu melebihi 3 persen. Kita masih melihat fiskalnya masih terjaga gitu. Dengan dilakukan efisiensi, penerimaan atau windfall kita harapkan bisa mengcover itu. Ekspor batubara, ekspor nikel, itu adanya windfall," kata Wihadi.
Ia menyebutkan, terjadinya defisit bukan disebabkan oleh melemahnya rupiah terhadap mata uang dolar AS semata.
"Sebenarnya melemahnya rupiah ini banyak aspek, baik internal maupun eksternal. Ini kan memang tidak hanya bicara fiskal, tapi juga bicara masalah moneter juga. Jadi semua yang sudah dikoordinasikan oleh Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad antara Menteri Keuangan dan Bank Indonesia, solusi kedepannya ada perbaikan dalam masa penanganan rupiah," ungkap politisi Gerindra itu.
Yang pasti sambungnya, melemahnya rupiah dikarenakan faktor global yang terjadi sekarang ini.
"Permasalahanya kalau yang namanya rupiah, pengaruhnya tidak bisa kita bedah satu persatu, tapi ini memang situasi global dan kepercayaan agar investasi bisa masuk. Saya kira yang dibutuhkan saat ini adalah koordinasi yang lebih baik antara fiskal dan moneter," ungkap Wihadi.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, hingga Mei 2026, defisit mencapai Rp180,4 triliun atau setara dengan 0,70 % terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Hingga Mei 2026, Defisit APBN Capai Rp180,4 triliun," kata Purbaya, Jakarta, Jumat (5/6/2026).

