BREAKINGNEWS

Menko Airlangga: Dunia Perlu Kerja Sama, Bukan Terpecah karena Ekonomi

Menko Airlangga: Dunia Perlu Kerja Sama, Bukan Terpecah karena Ekonomi
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Dok. MI)

Jakarta, MI - Meningkatnya ketegangan geopolitik global kini menjadi tantangan baru bagi perekonomian dunia. Gangguan rantai pasok, ketidakpastian perdagangan, hingga tekanan terhadap investasi membuat banyak negara harus mencari cara untuk memperkuat ketahanan ekonomi tanpa mengorbankan keterbukaan pasar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menegaskan solusi menghadapi tantangan tersebut bukanlah memutus hubungan ekonomi antarnegara, melainkan memperkuat kerja sama dan diversifikasi rantai pasok global.

“Yang dibutuhkan bukan decoupling, tetapi diversifikasi. Bukan fragmentasi, melainkan kerja sama dan kemitraan yang lebih kuat,” ujar Airlangga saat menjadi pembicara utama dalam Brussels Economic Security Forum (BESF) 2026 di Brussel, Belgia, seperti diberitakan Minggu (7/6/2026).

Forum tahunan tersebut mempertemukan pejabat tinggi Uni Eropa, pemerintah negara mitra, pelaku usaha, hingga kalangan akademisi untuk membahas isu keamanan ekonomi, perdagangan, investasi, teknologi, dan ketahanan rantai pasok global.

Dalam kesempatan itu, Airlangga menjelaskan bahwa konflik geopolitik di sejumlah kawasan strategis, termasuk Selat Hormuz dan Laut Merah, menunjukkan betapa cepatnya ketegangan politik dapat berdampak pada ekonomi global. Gangguan tersebut berpotensi meningkatkan biaya logistik, menekan investasi, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Meski menghadapi tantangan global yang kompleks, Airlangga menilai ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat. Pada kuartal I 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen secara tahunan, ditopang inflasi yang terkendali, cadangan devisa yang solid, serta surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung lebih dari 70 bulan berturut-turut.

Menurutnya, Indonesia saat ini juga terus mempercepat transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri, penguatan sektor manufaktur, digitalisasi, dan pengembangan ekonomi hijau.

Salah satu fokus utama adalah memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, terutama di sektor kendaraan listrik, baterai, mineral kritis, dan energi terbarukan.

Airlangga menyebut Indonesia kini berkembang menjadi salah satu pusat industri kendaraan listrik dunia setelah berhasil menarik investasi dari berbagai negara untuk pembangunan industri baterai, material katoda, hingga perakitan kendaraan listrik.

"Di sektor digital, Indonesia juga mencatat perkembangan pesat. Nilai ekonomi digital nasional diproyeksikan melampaui USD130 miliar pada 2025, menjadikan Indonesia sebagai pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara," ungkap dia.

Selain itu, pemerintah terus memperkuat ketahanan energi melalui pengembangan energi terbarukan dan implementasi program biodiesel B50. Kebijakan tersebut diperkirakan mampu mengurangi impor bahan bakar hingga 4 juta kiloliter per tahun sekaligus mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Dalam forum tersebut, Airlangga juga menegaskan komitmen Indonesia untuk memperluas kerja sama perdagangan internasional melalui sejumlah perjanjian strategis, termasuk IEU-CEPA, Indonesia-Canada CEPA, serta Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA). Indonesia juga terus melanjutkan proses aksesi ke CPTPP dan OECD.

Sebagai anggota ASEAN, G20, dan BRICS, Indonesia ingin memainkan peran sebagai penghubung antara negara maju dan negara berkembang guna mendorong terciptanya kerja sama ekonomi yang lebih inklusif.

“Indonesia percaya bahwa ketahanan ekonomi global hanya bisa dibangun melalui kolaborasi, keterbukaan, dan kemitraan yang saling menguntungkan,” tegas Airlangga.

Ia menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh negara untuk bersama-sama membangun sistem ekonomi global yang lebih tangguh, terbuka, dan berkelanjutan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia.

Topik:

Dian Ihsan

Penulis

Video Terbaru

Dunia Perlu Kerja Sama, Bukan Terpecah karena Ekonomi | Monitor Indonesia