BREAKINGNEWS

Biang Kerok IHSG Anjlok Hampir 2%

Biang Kerok IHSG Anjlok Hampir 2%
Indeks Harga Saham Gabungan (Foto: Ist)

Jakarta, MI - IHSG pada perdagangan Kamis (11/6/2026) tercatat melemah, yakni turun 112 poin atau sekitar 1,91% ke level 5.789.

Pilarmas Investindo Sekuritas menilai tekanan di pasar saham tersebut dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kembali naiknya inflasi di Amerika Serikat (AS), yang membuat pelaku pasar lebih berhati-hati.

Dalam riset hariannya, Pilarmas juga menyebutkan bahwa pelemahan IHSG sejalan dengan tren bursa Asia yang kompak terkoreksi, menyusul penutupan negatif di Wall Street pada perdagangan sebelumnya.

Salah satu faktor yang paling disorot adalah memanasnya konflik antara AS dan Iran. Laporan menyebut militer AS melakukan serangan ke Iran, sehingga memunculkan kekhawatiran bahwa upaya perdamaian yang sedang berjalan bisa terganggu dan berujung pada eskalasi konflik yang lebih panjang.

"Sebelumnya Presiden AS Donald Trump menuduh Iran mengulur-ulur negosiasi kesepakatan damai dan memperingatkan akan adanya serangan lanjutan apabila Iran gagal menandatangani kesepakatan," tulis Pilarmas dalam risetnya, dikutip Kamis (11/6/2026).

Di sisi lain, Iran dilaporkan memberikan respons dengan menargetkan kapal-kapal milik AS di Selat Hormuz. Situasi ini semakin meningkatkan kekhawatiran pasar setelah Iran mengumumkan penghentian lalu lintas pelayaran di jalur strategis tersebut.

Pilarmas menilai, kondisi ini berisiko mengganggu rantai pasok energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur paling vital bagi distribusi minyak dunia.

Tak hanya faktor geopolitik, tekanan juga datang dari sisi ekonomi AS. Inflasi tahunan AS tercatat naik menjadi 4,2% dari sebelumnya 3,8%, didorong kenaikan harga energi dan bahan bakar yang ikut terdampak konflik di Timur Tengah.

"Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama. Ekspektasi tersebut menjadi sentimen negatif bagi pasar saham karena berpotensi menekan aktivitas ekonomi dan meningkatkan biaya pendanaan," ujarnya.

Dari sisi domestik, Pilarmas juga menyoroti kebijakan kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang dinilai bisa memengaruhi daya beli masyarakat. Meski pemerintah masih mempertahankan harga Pertalite, kenaikan Pertamax dikhawatirkan dapat mendorong pergeseran konsumsi ke BBM bersubsidi, yang pada akhirnya berpotensi menambah tekanan terhadap kuota subsidi energi.

"Pasar mewaspadai potensi kenaikan inflasi akibat meningkatnya biaya transportasi yang pada akhirnya dapat berdampak terhadap harga barang dan jasa," tutur Pilarmas.

Pada sesi pertama perdagangan, sejumlah saham masih mampu mencatat penguatan, di antaranya KOPI, BABY, OILS, RISE, dan YUPI. Namun di sisi lain, tekanan jual juga cukup dominan pada beberapa saham yang justru mengalami pelemahan paling dalam, seperti HRTA, TRIN, ARCI, MPRO, dan GRIA.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru

Biang Kerok IHSG Anjlok Hampir 2% | Monitor Indonesia