BREAKINGNEWS

Ekonomi Syariah RI Tertekan, Peringkat Turun

Ekonomi Syariah RI Tertekan, Peringkat Turun
Ilustrasi. Ekonomi Syariah (Foto: Ist)

Jakarta, MI - Direktur Infrastruktur Ekonomi Syariah KNEKS dan Sekjen IAEI, Sutan Emir Hidayat, menilai turunnya peringkat Indonesia dalam State of the Global Islamic Economy Report (SGIER) menjadi peringatan penting.

Berdasarkan laporan SGIER 2025/2026 (2/6/2026), Indonesia turun ke peringkat empat dari sebelumnya posisi tiga dalam indikator ekonomi Islam global. Skor Indonesia juga tercatat 96 atau mengalami penurunan.

"Ini alarm bahwa kita sudah kembangkan ekonomi syariah, ternyata negeri lain lebih cepat dari kita," ujar Emir, dikutip Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, tantangan utama Indonesia bukan kurang potensi atau daya saing, melainkan bagaimana mengonversi berbagai keunggulan tersebut menjadi kepemimpinan yang lebih kuat dalam rantai nilai ekonomi syariah global.

Ia juga mengingatkan, Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar Muslim terbesar di dunia. Jika hanya menjadi konsumen, maka negara lain seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi bisa terus melaju dan mengambil posisi lebih unggul.

Emir menjelaskan bahwa penurunan peringkat Indonesia dalam SGIER 2025/2026 terutama dipengaruhi oleh dua sektor utama yang memiliki bobot terbesar, yaitu makanan halal dan keuangan syariah, masing-masing 30 persen.

"Halal food kita sudah baik, bahkan naik dari peringkat 4 ke peringkat 3. Tapi sektor keuangan syariah turun 22 poin, padahal bobotnya 30 persen," kata Emir.

Penurunan tersebut dipengaruhi beberapa faktor, seperti kedalaman pasar keuangan atau financial deepening, size, regulasi, tata kelola, serta satu faktor krusial, yakni integrasi.

"Ini yang menjadi kelebihan Malaysia. Mereka punya tata kelola yang baik, standarisasi yang baik, dan keuangan syariahnya terintegrasi dengan industri halal," imbuhnya.

Sementara itu, ia menilai Indonesia masih menghadapi persoalan pada pengelolaan ekosistem. Industri halal memang terus tumbuh, tetapi permodalannya berjalan sendiri menggunakan jalur konvensional.

Emir menekankan bahwa untuk memperbaiki peringkat Indonesia, fokus tidak boleh hanya pada sisi konsumsi produk halal. Indonesia perlu bertransformasi dari sekadar pasar menjadi produsen utama produk halal.

"Ini masih PR kira, padahal dalam RPJMN kita ada target peningkatan kontribusi ekspor produk halal menjadi 3,9 persen pada 2029," tegasnya.

Menurutnya, Indonesia sebenarnya memiliki peran besar dalam rantai pasok global. Sekitar 15 persen produsen halal terbesar di dunia berasal dari Indonesia, dari total 30 persen produsen global.
 
Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan optimal. Emir menyoroti bahwa 15 persen produsen halal di Indonesia belum sepenuhnya terhubung dengan pembiayaan dari industri keuangan syariah dalam negeri, sehingga aset keuangan syariah cenderung stagnan.

Padahal, karakteristik keuangan syariah eksklusif lantaran hanya mendanai industri halal dan mengharamkan pendanaan non-halal.

Selain itu, Indonesia juga perlu memperluas pasar ekspor serta mengurangi ketergantungan pada impor melalui program substitusi produk halal.

"Dengan ekspor semakin tinggi dan impor rendah, akan menguntungkan perekonomian kita," tutupnya.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru

Ekonomi Syariah RI Tertekan, Peringkat Turun | Monitor Indonesia