Jakarta, MI – Kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,75 persen mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Sejumlah ekonom memperkirakan momentum ekspansi ekonomi pada 2026 akan tertahan akibat meningkatnya biaya pinjaman dan melambatnya aktivitas kredit.
Meski belum mengarah pada perlambatan tajam, kenaikan suku bunga dinilai akan membuat dunia usaha dan masyarakat lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan konsumsi maupun investasi.
Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 masih mampu bertahan di level 5,17 persen. Namun angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 5,22 persen ketika suku bunga acuan masih berada di level 5,50 persen.
Menurut Myrdal, stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga karena didukung oleh konsumsi domestik yang kuat, belanja pemerintah, serta investasi yang masih berjalan di sejumlah sektor strategis.
"Pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 5,17 persen dengan inflasi sekitar 3,09 persen. Stabilitas harga masih relatif terkendali meski kebijakan moneter diperketat," ujarnya.
Namun, dampak kenaikan suku bunga diperkirakan akan langsung terasa pada sektor perbankan. Pertumbuhan kredit berpotensi melambat karena biaya dana meningkat dan bunga pinjaman menjadi lebih mahal.
BTN memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 akan berada di bawah 9 persen, lebih rendah dibandingkan target ekspansi yang sebelumnya diharapkan.
Meski demikian, sejumlah sektor masih dinilai memiliki daya tahan tinggi terhadap tekanan suku bunga. Sektor pangan, transportasi, konstruksi, energi, industri makanan dan minuman, kelapa sawit, besi baja, hingga properti residensial diperkirakan tetap menjadi motor pembiayaan dan investasi.
Pandangan serupa disampaikan Chief Economist BSI, Banjaran Surya Indrastomo. Menurutnya, kenaikan BI Rate sebesar 100 basis poin sepanjang semester pertama 2026 berpotensi membuat pertumbuhan ekonomi bergerak lebih moderat.
Ia menilai dampak kebijakan moneter akan terlihat melalui naiknya biaya modal, penyesuaian bunga kredit, serta meningkatnya kehati-hatian pelaku usaha dan rumah tangga dalam membelanjakan uang maupun melakukan ekspansi bisnis.
"Kondisi ekonomi Indonesia belum mengarah pada perlambatan yang tajam, tetapi momentum pertumbuhannya jelas menjadi lebih tertahan dibandingkan sebelumnya," kata Banjaran.
Selain tekanan dari suku bunga tinggi, Banjaran mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, termasuk ketidakstabilan nilai tukar rupiah dan potensi perlambatan pertumbuhan kredit. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kombinasi faktor tersebut dapat menekan konsumsi masyarakat, investasi swasta, hingga ekspansi dunia usaha.
Meski menghadapi tantangan tersebut, para ekonom menilai fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menjaga pertumbuhan tetap berada di kisaran 5 persen. Konsumsi rumah tangga yang tetap dominan, belanja pemerintah, serta berbagai kebijakan pendukung sektor riil diperkirakan menjadi penopang utama ekonomi nasional sepanjang 2026.
Kenaikan suku bunga memang menjadi rem bagi pertumbuhan, namun sekaligus menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi pasar keuangan dan perdagangan internasional.**

