BREAKINGNEWS

IHSG Ambruk Lebih dari 3%, Hampir 600 Saham Berguguran

IHSG Ambruk Lebih dari 3%, Hampir 600 Saham Berguguran
Indeks Harga Saham Gabungan (Foto: Ist)

Jakarta, MI - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah dan terperosok tajam pada perdagangan Rabu (24/6/2026), meski sempat dibuka menguat setelah MSCI memastikan Indonesia tetap bertahan dalam kategori pasar berkembang (emerging market).

Memasuki sesi II sekitar pukul 15.05 WIB, IHSG merosot 3,07% atau sekitar 186 poin ke level 5.915,27. Sepanjang perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.171 sebelum jatuh ke titik terendah 5.899.

Di tengah tekanan tersebut, aktivitas perdagangan juga terpantau lesu. Nilai transaksi hingga menjelang penutupan pasar hanya mencapai Rp11,26 triliun dengan volume perdagangan 20,44 miliar saham dalam 1,66 juta transaksi. Sebanyak 590 saham terkoreksi, sementara 99 saham menguat dan 121 saham bergerak stagnan.

Saham-saham yang paling aktif diperdagangkan hari ini antara lain TPIA, BBCA, DSSA, BBRI, dan BMRI.

Berdasarkan data Refinitiv, seluruh sektor di bursa bergerak di zona merah. Pelemahan terdalam dialami sektor barang baku, energi, dan kesehatan.

Tekanan jual juga menghantam saham-saham berkapitalisasi besar maupun emiten yang terafiliasi dengan kelompok usaha konglomerasi. Sejumlah saham yang menjadi pemberat utama IHSG antara lain MORA, BBRI, BBCA, BRMS, BMRI, AMMN, SMMA, BRPT, ENRG dan BUMI.

Pergerakan pasar hari ini dipengaruhi sejumlah sentimen penting, baik dari dalam maupun luar negeri. Salah satu yang paling menjadi perhatian adalah hasil MSCI 2026 Market Classification Review yang kembali mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market. 

Meski demikian, MSCI memberikan sejumlah catatan terkait transparansi kepemilikan saham, free float, hingga dugaan perdagangan terkoordinasi di pasar saham domestik.

Sebelumnya, MSCI mengumumkan Indonesia tetap berada dalam kelompok pasar berkembang. Namun lembaga penyedia indeks global tersebut menyoroti masih adanya kekhawatiran investor institusi internasional terhadap transparansi struktur kepemilikan saham dan potensi aktivitas perdagangan yang dinilai dapat memengaruhi penentuan free float serta keandalan harga pasar.

Menurut MSCI, kedua isu tersebut berkaitan langsung dengan aspek aksesibilitas pasar, khususnya pada pilar aliran informasi dan infrastruktur pasar yang menjadi bagian penting dalam penilaian mereka.

Di sisi lain, MSCI mengapresiasi sejumlah reformasi yang telah dilakukan regulator pasar modal Indonesia. Langkah tersebut meliputi peningkatan pengungkapan pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, pengenalan kerangka kerja Konsentrasi Kepemilikan Saham Tinggi (HSC), dan peta jalan untuk meningkatkan persyaratan free float minimum menjadi 15%.

Meski menyambut positif berbagai kebijakan tersebut, MSCI menegaskan bahwa yang paling penting adalah implementasi yang konsisten dan dampak jangka panjangnya terhadap pasar.

MSCI juga mengingatkan bahwa evaluasi lanjutan akan dilakukan pada November 2026. 

"Jika kemajuan yang memadai tidak terlihat pada saat Tinjauan Indeks MSCI November 2026, MSCI akan mempertimbangkan berbagai opsi untuk perlakuan yang tepat bagi pasar Indonesia, yang berpotensi mencakup konsultasi tentang pengklasifikasian ulang Indonesia dari Pasar Berkembang menjadi Pasar Perbatasan," tulis MSCI.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati data uang beredar Mei 2026 yang menunjukkan likuiditas perekonomian tumbuh lebih cepat. Selain itu, sejumlah isu lain seperti penerapan komisi baru ojek online sebesar 8% mulai Juli 2026, serta perkembangan Patriot Bond dan Merah Putih Bond turut menjadi perhatian investor.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru

IHSG Ambruk Lebih dari 3%, Hampir 600 Saham Berguguran | Monitor Indonesia