BREAKINGNEWS

MSCI Tahan Status Indonesia, Tapi Ancaman Turun ke Frontier Market Masih Mengintai

MSCI Tahan Status Indonesia, Tapi Ancaman Turun ke Frontier Market Masih Mengintai
Bursa Efek Indonesia (Foto: Dok. MI)

Jakarta, MI - Penurunan skor aksesibilitas pasar dalam tinjauan terbaru MSCI kembali memunculkan kekhawatiran bahwa pasar saham Indonesia berpotensi turun kelas dari kategori emerging market menjadi frontier market. 

Meski demikian, sejumlah indikator utama dinilai masih cukup kuat untuk menjaga posisi Indonesia berada di kelompok pasar berkembang.

Dalam MSCI Market Classification Review 2026, MSCI memutuskan mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market. Keputusan tersebut diambil di tengah sorotan terhadap transparansi struktur kepemilikan saham, penentuan free float, serta indikasi perdagangan terkoordinasi yang memengaruhi aspek aksesibilitas pasar.

Sebelumnya, MSCI juga menunda evaluasi lanjutan hingga November 2026. Langkah ini memberikan ruang bagi otoritas pasar modal Indonesia untuk menjalankan berbagai reformasi yang telah diumumkan.

MSCI turut mengapresiasi sejumlah perbaikan yang dilakukan regulator, seperti peningkatan keterbukaan pemegang saham di atas 1%, penguatan klasifikasi kepemilikan efek, serta rencana peningkatan batas minimum free float menjadi 15%. 

Namun, efektivitas kebijakan tersebut tetap akan dievaluasi berdasarkan implementasi dan dampaknya terhadap pasar.

Menanggapi perkembangan tersebut, Samuel Sekuritas Indonesia menilai peluang Indonesia turun ke kategori frontier market masih relatif kecil. Menurut perusahaan sekuritas itu, Indonesia masih memenuhi syarat utama MSCI, terutama dari sisi ukuran dan likuiditas pasar.

“Kami melihat probabilitas reklasifikasi ke frontier market relatif rendah dalam waktu dekat, mengingat ukuran dan likuiditas pasar Indonesia masih memadai untuk mempertahankan status emerging market,” tulis Samuel Sekuritas Indonesia dalam risetnya, Rabu (24/6/2026).

Samuel Sekuritas Indonesia juga mencatat MSCI masih memberlakukan freeze atau penghentian sementara terhadap penambahan saham baru Indonesia ke dalam indeksnya. Akibatnya, sejumlah emiten yang sebenarnya telah memenuhi persyaratan masih belum dapat masuk ke indeks MSCI.

“Beberapa perusahaan Indonesia sebenarnya sudah memenuhi persyaratan kuantitatif untuk masuk indeks MSCI,” jelas riset tersebut.

Di sisi lain, praktisi pasar modal Hans Kwee menilai penurunan pada satu indikator aksesibilitas tidak otomatis membuat Indonesia kehilangan status sebagai emerging market.

Menurutnya, risiko penurunan status memang tetap ada, namun perubahan tersebut masih tertahan selama indikator utama seperti ukuran dan likuiditas pasar tetap terpenuhi.

“Penurunan satu kriteria aksesibilitas tidak dapat memicu reklasifikasi posisi Indonesia dari emerging market ke frontier market,” ujar Hans.

Hans juga menyoroti bahwa mayoritas indikator aksesibilitas Indonesia masih berada pada level yang cukup baik dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya. Selain itu, jumlah saham yang memenuhi kriteria ukuran dan likuiditas MSCI juga masih berada di atas batas minimum yang dipersyaratkan.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru

MSCI Tahan Status Indonesia, Tapi Ancaman Turun ke Frontier | Monitor Indonesia