Jakarta, MI - Daya saing Indonesia di kancah global kembali melemah pada 2026. Berdasarkan laporan IMD World Competitiveness Ranking 2026, Indonesia berada di peringkat ke-48 dari 70 negara yang disurvei, turun delapan tingkat dibandingkan tahun sebelumnya yang menempati peringkat ke-40.
Penurunan ini melanjutkan tren pelemahan yang terjadi dalam dua tahun terakhir. Padahal, Indonesia sempat mencatat capaian terbaiknya dengan berada di posisi ke-27 pada 2024. Artinya, dalam kurun waktu dua tahun, peringkat daya saing Indonesia telah merosot 21 tingkat.
Kondisi tersebut menjadi sorotan karena menunjukkan masih adanya berbagai tantangan yang harus dibenahi, mulai dari iklim investasi, efisiensi dunia usaha, hingga kualitas infrastruktur yang menjadi faktor penting dalam mendukung daya saing nasional.
Pemeringkatan IMD World Competitiveness Ranking mengukur daya saing suatu negara melalui empat indikator utama, yakni Performa Ekonomi, Efisiensi Birokrasi, Efisiensi Bisnis, dan Infrastruktur. Dari keempat kategori tersebut, sektor infrastruktur menjadi aspek yang memperoleh penilaian terendah bagi Indonesia pada tahun ini.
Dalam kategori Infrastruktur, Indonesia menempati peringkat ke-58 dengan skor 31,92. Posisi ini turun satu tingkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di peringkat ke-57 dan menjadi pencapaian terendah setidaknya dalam tujuh tahun terakhir.
Jika dilihat lebih rinci, subkategori Kesehatan dan Lingkungan menjadi titik terlemah Indonesia dengan menempati posisi ke-65 dunia. Sementara itu, kinerja terbaik dalam kelompok infrastruktur tercatat pada subkategori Infrastruktur Dasar yang berada di peringkat ke-42.
Di sisi lain, Performa Ekonomi menjadi indikator yang menunjukkan hasil paling baik. Indonesia mampu mempertahankan peringkat ke-24 dengan skor 59,89, sama seperti yang dicapai pada 2024. Pada kategori ini, subkategori Harga menjadi yang paling kompetitif dengan menduduki posisi ke-10 dunia.
Adapun subkategori Perdagangan Internasional menjadi aspek yang paling rendah dengan peringkat ke-50.
Kategori Efisiensi Birokrasi juga menunjukkan tantangan tersendiri. Indonesia berada di posisi ke-38 dengan skor 55,96, sekaligus menjadi capaian terendah dalam beberapa tahun terakhir sejak 2019. Di dalam kategori ini, aspek Perpajakan menjadi yang paling kuat dengan peringkat ke-10, sedangkan Aturan Sosial menjadi yang paling rendah dengan posisi ke-54.
Penurunan paling tajam terjadi pada kategori Efisiensi Bisnis. Indonesia terjun ke peringkat ke-50 setelah sebelumnya berada di posisi ke-26. Capaian tersebut juga menjadi yang terendah sejak 2019, padahal pada 2024 kategori ini sempat menempati posisi ke-14 dunia.
Dalam kategori Efisiensi Bisnis, subkategori Praktik Pengelolaan menjadi aspek dengan performa terlemah di peringkat ke-55. Sementara itu, Pasar Tenaga Kerja menjadi subkategori terbaik dengan posisi ke-21.
