BREAKINGNEWS

Bobot Indonesia di Indeks MSCI Merosot, Kini Tersisa 0,5 Persen

Bobot Indonesia di Indeks MSCI Merosot, Kini Tersisa 0,5 Persen
MSCI (Morgan Stanley Capital International) (Foto: Ist)

Jakarta, MI - Bobot pasar saham Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets (EM) terus tergerus dalam 10 tahun terakhir. Porsi Indonesia di indeks acuan investor global itu kini tinggal sekitar 0,5 persen, anjlok dari posisi puncaknya yang sempat mendekati 3 persen.

Riset analis UOB Kay Hian Willinoy Sitorus dan Indonesia Research Team pada 26 Juni 2026 juga menunjukkan jumlah saham Indonesia di indeks MSCI kini menyusut menjadi sekitar 11 emiten. Beberapa tahun lalu, jumlah konstituennya masih menembus lebih dari 20 saham.

Berdasarkan fact sheet MSCI Indonesia, indeks tersebut masih ditopang saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan. Kontributor utamanya antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).

Menyusutnya bobot Indonesia mencerminkan semakin kecilnya peran pasar saham domestik di indeks pasar berkembang global.

Di saat yang sama, perhatian investor juga tertuju pada evaluasi MSCI terhadap transparansi dan tata kelola pasar modal Indonesia. Meski masih mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market, MSCI menunda keputusan final hingga November 2026.

MSCI memberi waktu kepada otoritas pasar modal Indonesia hingga 26 November untuk menunjukkan efektivitas reformasi terkait transparansi dan tata kelola.

Meski begitu, UOB Kay Hian masih meyakini skenario paling besar adalah Indonesia tetap bertahan di kelompok MSCI Emerging Markets.

Pandangan serupa disampaikan Goldman Sachs. Dikutip dari Dow Jones Newswires, bank investasi tersebut memperkirakan status Indonesia sebagai pasar berkembang tidak akan berubah. Namun, penurunan bobot indeks dan keluarnya sejumlah saham dari MSCI masih berpotensi terjadi setelah pembaruan data kepemilikan saham diperhitungkan.

Goldman Sachs menilai penundaan keputusan itu menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk membuktikan perbaikan tata kelola pasar modal. Namun, ketidakpastian hasil evaluasi diperkirakan masih membayangi sentimen investor, di tengah tantangan ekonomi domestik seperti lemahnya permintaan, perlambatan pertumbuhan kredit, hingga penurunan penjualan ritel.

Sementara itu, Maybank Sekuritas menilai penundaan evaluasi MSCI belum tentu langsung memicu masuknya dana asing dalam jumlah besar ke pasar saham Indonesia. Investor diperkirakan memilih menunggu keputusan final pada November sebelum menambah eksposur ke aset domestik.

Selain menanti hasil evaluasi MSCI, pelaku pasar juga masih mencermati berbagai risiko dalam negeri, mulai dari kondisi fiskal, pergerakan nilai tukar rupiah, tekanan inflasi, hingga kekhawatiran terhadap rasio pembayaran utang pemerintah.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru

Bobot Indonesia di Indeks MSCI Merosot, Kini Tersisa 0,5 Per | Monitor Indonesia