Jakarta, MI - Di tengah tren masyarakat yang makin akrab dengan skema Buy Now Pay Later (BNPL), nilai kredit paylater yang disalurkan perbankan terus melesat sepanjang tahun ini.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengatakan, porsi produk kredit BNPL di perbankan saat ini mencapai 0,34 persen dari total kredit.
"Per Mei 2026, baki debet kredit BNPL sebagaimana dilaporkan dalam SLIK, tumbuh sebesar 37,72 persen yoy menjadi Rp30,1 triliun, dengan jumlah rekening mencapai 31,76 juta," ujar Dian, Rabu (8/7/2026).
Sementara itu, berdasarkan data SLIK, pembiayaan BNPL yang disalurkan perusahaan pembiayaan juga mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni 53,78 persen yoy menjadi Rp13,18 triliun. Adapun rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) gross tercatat sebesar 3,44 persen.
Di sisi lain, fungsi intermediasi perbankan juga terus menguat dengan profil risiko yang tetap terjaga. Hingga Mei 2026, penyaluran kredit nasional tumbuh 11,51 persen yoy menjadi Rp8.918 triliun.
Jika dilihat berdasarkan jenis penggunaannya, Kredit Investasi mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 21,95 persen, diikuti oleh Kredit Modal Kerja sebesar 8,09 persen, sedangkan Kredit Konsumsi sebesar 5,89 persen.
Berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 18,39 persen yoy. Sementara itu, kredit UMKM juga melanjutkan tren positif dengan kenaikan 0,60 persen yoy.
"Ditinjau dari kepemilikan, kredit bank BUMN tumbuh tertinggi yaitu sebesar 15,98 persen yoy," pungkasnya.
