Jakarta, MI - Riwayat panjang PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS) akhirnya berakhir. BUMN galangan kapal yang telah berdiri sejak 1910 itu resmi dinyatakan pailit setelah lebih dari satu abad beroperasi. Perusahaan yang pernah menjadi salah satu tulang punggung industri maritim nasional itu tercatat telah memperbaiki lebih dari 20.000 kapal dan membangun lebih dari 600 kapal untuk pelanggan di dalam maupun luar negeri.
Status pailit DPS ditetapkan Pengadilan Niaga Surabaya pada 3 Juni 2026. Setelah putusan tersebut keluar, pemerintah melalui Danantara memastikan seluruh aset perusahaan akan dikonsolidasikan ke PT PAL Indonesia sebagai bagian dari penataan ulang industri galangan kapal milik negara.
Mengutip laman resmi perusahaan, Kamis (16/7/2026), perjalanan DPS bermula pada 22 September 1910 saat pemerintah kolonial Belanda mendirikan NV Droogdok Maatschappij untuk melayani perawatan armada kapal Belanda yang beroperasi di wilayah Indonesia
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942-1945, pengelolaan perusahaan beralih ke pemerintah Jepang dan namanya berubah menjadi Harima Zosen.
Usai Indonesia merdeka, perusahaan dinasionalisasi pada 1 Januari 1961 dan berganti nama menjadi PN Dok dan Perkapalan Surabaya. Selanjutnya, pada 1976 statusnya diubah menjadi persero dengan nama PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) atau yang lebih dikenal sebagai DPS.
Pernah Jadi Andalan Industri Maritim
Selama lebih dari 100 tahun beroperasi, DPS menjelma menjadi salah satu galangan kapal terbesar di Indonesia. Bisnisnya tidak hanya memperbaiki kapal, tetapi juga membangun kapal baru, melakukan konversi kapal, hingga menggarap proyek konstruksi lepas pantai (offshore).
Perusahaan memiliki kemampuan membangun kapal baru hingga 8.000 deadweight ton (DWT) dan memperbaiki kapal berbobot sampai 10.000 DWT. Selain itu, DPS juga mengerjakan fabrikasi struktur baja, layanan desain dan rekayasa (engineering), hingga berbagai proyek penunjang industri maritim.
Sejak dinasionalisasi pada 1961, perusahaan mencatat telah memperbaiki lebih dari 20.000 kapal dan membangun lebih dari 600 kapal yang digunakan pelanggan dari dalam maupun luar negeri.
Untuk mendukung operasionalnya, DPS mengantongi berbagai sertifikasi internasional seperti ISO 9001 dan OHSAS 18001. Perusahaan juga mengadopsi teknologi Computer-Aided Design (CAD), Computer-Aided Manufacturing (CAM), hingga sistem Enterprise Resource Planning (ERP) guna meningkatkan efisiensi produksi.
Tak Hanya Bangun Kapal
DPS juga menggarap berbagai proyek di luar pembangunan kapal. Perusahaan memiliki pengalaman mengerjakan konstruksi lepas pantai, fabrikasi crane, struktur baja, hingga layanan perbaikan poros baling-baling kapal yang telah mengantongi sertifikasi dari American Bureau of Shipping (ABS).
Lokasinya yang berada di Surabaya, tak jauh dari Pelabuhan Tanjung Perak, menjadi salah satu keunggulan perusahaan. Posisi tersebut memudahkan kapal-kapal domestik maupun internasional mengakses layanan perawatan dan pembangunan kapal.
Namun, perjalanan lebih dari satu abad itu kini harus berakhir. Melalui akun Instagram resminya, DPS menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh karyawan, pelanggan, dan mitra yang telah menjadi bagian dari perjalanan perusahaan selama lebih dari 100 tahun.
Ke depan, aset-aset eks DPS akan dialihkan ke PT PAL Indonesia melalui Danantara. Langkah ini diharapkan menjaga aset strategis negara tetap produktif sekaligus memperkuat daya saing industri galangan kapal nasional.
