Jakarta, MI - Dua saham papan atas, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), berada dalam radar perubahan indeks MSCI. Jika status keduanya berubah, potensi dana asing keluar dari pasar saham Indonesia diperkirakan mencapai Rp1,5 triliun.
Dalam tinjauan indeks kuartalan MSCI yang diumumkan pada 13 Agustus 2026 dan berlaku efektif setelah penutupan perdagangan 31 Agustus, CPIN berisiko turun kelas dari indeks MSCI Global Standard ke Small Cap. Sementara GOTO terancam terdepak dari indeks tersebut.
Berdasarkan riset Mirae Asset Sekuritas, CPIN terancam turun kelas karena kapitalisasi pasar berbasis free float sudah berada di bawah ambang batas MSCI. Tekanan ini terjadi setelah harga saham CPIN terkoreksi sekitar 22,5% sejak tinjauan MSCI pada Mei 2026.
Berbeda dengan CPIN, persoalan GOTO lebih berkaitan dengan likuiditas. Saham emiten teknologi ini masih tertahan di level terendah Rp50, sehingga aktivitas transaksi dinilai belum memenuhi kriteria yang dibutuhkan MSCI.
“Pada Julij 2026, averaged traded value ratio (ATVR) GOTO mencemaskan, hanya 0,6%, sedangkan saham ada di batas bawah,” tulis Mirae Asset Sekuritas dalam risetnya, dikutip Jumat (24/7/2026).
Meski demikian, Mirae melihat GOTO masih memiliki peluang bertahan di indeks MSCI karena regulator indeks tersebut memiliki ruang diskresi dalam menentukan keputusan akhir.
Jika CPIN benar-benar turun ke indeks Small Cap, potensi arus keluar dana asing diperkirakan mencapai sekitar Rp500 miliar. Nilai tersebut setara dengan 150 juta saham atau sekitar 3% dari kepemilikan asing di CPIN.
Sementara itu, pencoretan GOTO dari indeks MSCI berpotensi memicu outflow lebih besar, yakni sekitar Rp1 triliun.
Perubahan status CPIN dan GOTO juga diperkirakan berdampak pada bobot Indonesia di MSCI Emerging Market yang bisa turun 0,04 poin persentase.
Di sisi lain, tekanan terhadap saham Indonesia di MSCI mulai mereda. Pada Juli 2026, bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Market tercatat naik menjadi 0,5%. Kondisi tersebut didorong oleh berkurangnya arus keluar dana asing yang turun menjadi sekitar Rp4 triliun, dibandingkan rata-rata bulanan Rp12,3 triliun sepanjang semester I 2026.
