Jakarta, MI - Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terus menguat dan menyentuh level tertinggi dalam 15 pekan pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Kenaikan ini didorong oleh menguatnya harga minyak mentah, pulihnya harga minyak sawit di Bursa Dalian, hingga meningkatnya permintaan dari China.
Di Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO pengiriman Oktober naik 1,10% menjadi 4.762 ringgit per ton. Sepanjang pekan ini, harganya sudah menguat 3,59% dan berpeluang menutup pekan dengan kenaikan untuk tiga minggu berturut-turut.
Kepala Riset Komoditas Sunvin Group, Anilkumar Bagani, mengatakan sentimen positif masih mengalir ke pasar CPO. Selain harga energi yang terus naik, peluncuran program biodiesel B50 di Indonesia juga diperkirakan akan memperketat pasokan minyak sawit, sehingga ikut menopang harga. Di saat yang sama, permintaan baru dari China turut menjadi penopang.
Di pasar minyak nabati, kontrak minyak kedelai di Bursa Dalian naik 0,88%, sementara kontrak minyak sawit menguat 1,33%. Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) turun tipis 0,23%.
Pergerakan CPO memang kerap mengikuti harga minyak nabati lainnya karena saling bersaing di pasar global.
Pelaku pasar juga mencermati perkembangan di Brasil. Negara tersebut dinilai memiliki peluang memperluas perkebunan kelapa sawit hingga lebih dari tiga kali lipat dalam 10 tahun ke depan dengan memanfaatkan lahan yang telah mengalami deforestasi di kawasan Amazon.
Di sisi lain, Rabobank memperkirakan produksi kedelai Brasil pada musim tanam 2026-2027 turun 2% menjadi 178 juta ton. Luas tanam juga diperkirakan tidak banyak berubah karena kondisi pasar yang masih menantang.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent masih bertahan di atas US$100 per barel dan berada di jalur kenaikan selama empat pekan beruntun. Kondisi ini membuat CPO semakin menarik sebagai bahan baku biodiesel, sehingga ikut mendorong penguatan harganya.
