Jakarta, MI - Harga minyak dunia melesat sekitar 7 persen pada perdagangan Rabu (29/7/2026). Lonjakan ini dipicu memanasnya kembali konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global. Di saat yang sama, cadangan minyak mentah Amerika Serikat (AS) juga tercatat turun ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Minyak mentah Brent ditutup naik 7,91 persen ke level USD90,74 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 6,56 persen menjadi USD84,46 per barel.
Ketegangan di kawasan kembali meningkat setelah AS dan Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok yang didukung Iran di Irak. Kedua negara menuding kelompok tersebut berada di balik serangan pesawat nirawak yang menyasar fasilitas minyak Arab Saudi.
Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah militer AS mengklaim berhasil menggagalkan serangan mendadak Iran terhadap pasukannya di kawasan.
Di sisi lain, Iran mengaku telah menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz serta pangkalan militer AS di Yordania. Situasi juga memanas di Mesir setelah ledakan mengguncang pelabuhan pemuatan gas alam di Laut Mediterania.
Perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey, juga melaporkan sebuah kapal penyimpanan terapung milik perusahaan AS di kawasan tersebut terkena serangan pesawat nirawak.
"Pasar kembali dengan cepat memperhitungkan meningkatnya risiko terhadap pasokan energi di kawasan tersebut," ujar Partner Again Capital, John Kilduff, dikutip Reuters.
Sentimen pasar semakin menguat setelah Presiden AS Donald Trump, dalam wawancara dengan Fox News, menyatakan akan melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran.
Tak hanya itu, pemerintah AS juga mengumumkan paket sanksi baru terhadap Iran. Departemen Keuangan AS menyebut sanksi tersebut menyasar upaya Teheran untuk "memonetisasi Selat Hormuz" dengan menjatuhkan sanksi kepada 10 entitas dan delapan kapal tanker tambahan.
Sementara itu, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran menolak usulan Oman terkait pengelolaan bersama Selat Hormuz oleh negara-negara di kawasan.
Kepala Riset Energi DBS Bank, Suvro Sarkar, memperkirakan harga minyak Brent masih akan bergerak liar di kisaran USD80 hingga USD100 per barel dalam waktu dekat. Menurutnya, naik turunnya harga akan sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah yang hingga kini masih terus bereskalasi.
Dari sisi fundamental, harga minyak juga mendapat dorongan dari potensi perubahan kebijakan OPEC+. Sejumlah sumber Reuters menyebut kelompok produsen minyak itu kemungkinan akan menunda rencana kenaikan produksi selama tiga bulan mulai Oktober, setelah menyelesaikan pengembalian pasokan yang sebelumnya dipangkas secara sukarela.
