Jakarta, MI – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mengakui proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh masih meninggalkan beban keuangan bagi sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) yang tergabung dalam konsorsium pembangunan proyek tersebut.
Salah satu yang terdampak adalah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), yang hingga kini masih menanggung kewajiban finansial terkait investasi di proyek strategis nasional itu.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, membenarkan bahwa beban tersebut berasal dari kepemilikan saham BUMN di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), termasuk adanya tagihan yang belum terselesaikan.
"Kalau ditanya dulu kenapa begitu? Ya tentu silakan cari tahu. Namun, saya hanya membenarkan bahwa memang terbebani. WIKA terbebani karena mereka punya saham di KCIC. Ada tagihan yang juga belum diselesaikan, dan ini menjadi beban bagi mereka," kata Dony di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang terdiri atas PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara VIII diketahui menguasai sekitar 60 persen saham KCIC, perusahaan yang mengelola operasional kereta cepat Whoosh.
Pernyataan Danantara menjadi pengakuan terbuka bahwa proyek yang selama ini dipromosikan sebagai simbol modernisasi transportasi nasional masih menyisakan persoalan finansial yang harus diselesaikan para pemegang saham BUMN.
Dony menegaskan Danantara saat ini tengah melakukan pembenahan menyeluruh terhadap berbagai persoalan di lingkungan BUMN, termasuk menyelesaikan warisan masalah keuangan yang masih membebani sejumlah perusahaan pelat merah.
Menurutnya, evaluasi tidak hanya dilakukan pada proyek Whoosh, tetapi juga mencakup berbagai persoalan lain di BUMN, termasuk dugaan rekayasa laporan keuangan yang belakangan mencuat di PT Pos Indonesia.
Pengakuan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan BUMN tidak hanya berkaitan dengan ekspansi bisnis, tetapi juga penyelesaian kewajiban finansial dari proyek-proyek besar yang telah berjalan. Kondisi ini dinilai menjadi pekerjaan rumah bagi Danantara dalam memperkuat kesehatan keuangan perusahaan-perusahaan negara sekaligus memastikan investasi strategis tidak terus menjadi beban bagi neraca BUMN.
Di sisi lain, pemerintah sebelumnya telah menyepakati skema restrukturisasi pendanaan proyek Whoosh sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan operasional kereta cepat sekaligus menata kembali struktur pembiayaan proyek tersebut.**
