BREAKINGNEWS

Asing Mulai Masuk Lagi, Bursa RI Jadi Kandidat Rebutan Dana Global

Asing Mulai Masuk Lagi, Bursa RI Jadi Kandidat Rebutan Dana Global
Bursa Saham Indonesia

Jakarta, MI— Pergerakan dana asing menjadi salah satu kunci arah pasar saham Indonesia di tengah tekanan global. Setelah sempat mengalami aksi jual besar-besaran sepanjang beberapa bulan, investor asing mulai menunjukkan tanda-tanda kembali masuk ke pasar saham domestik.

Kondisi tersebut membuat prospek IHSG kembali menjadi perhatian. Namun, arus dana global belum sepenuhnya stabil sehingga penguatan indeks masih perlu diuji.

Pada perdagangan Senin (10/8/2026), IHSG ditutup melemah 0,69 persen ke level 6.365,37. Menariknya, investor asing justru mencatatkan net buy sekitar Rp829,7 miliar di seluruh pasar, meski di pasar reguler masih terdapat tekanan jual.

Pada Selasa (11/8/2026), IHSG sempat dibuka menguat 0,29 persen ke level 6.383,81. Pergerakan tersebut menunjukkan pasar masih berusaha membangun momentum pemulihan setelah tekanan panjang sebelumnya.

Data yang menjadi perhatian menunjukkan derasnya aksi jual investor asing pada periode Maret-Mei 2026. Dalam tiga bulan tersebut, net sell asing masing-masing disebut mencapai Rp23,34 triliun, Rp17,02 triliun, dan Rp4,10 triliun.

Tekanan tersebut berjalan beriringan dengan penurunan IHSG yang disebut mencapai 18,49 persen selama periode tiga bulan.

Situasi itu memperlihatkan satu hal penting: arah arus modal asing masih menjadi faktor krusial bagi pergerakan IHSG, terutama karena saham-saham berkapitalisasi besar memiliki bobot signifikan terhadap indeks.

Namun, kondisi pasar saat ini mulai menunjukkan perubahan. Investor asing tidak lagi secara konsisten melakukan aksi jual seperti pada periode tekanan sebelumnya. Bahkan, pada awal pekan ini asing telah membukukan net buy meski IHSG masih ditutup di zona merah.

Indonesia Mulai Menarik Lagi?

Di tengah perubahan alokasi portofolio global, Indonesia memiliki sejumlah daya tarik yang berpotensi membuat pasar domestik kembali dilirik investor internasional.

Salah satunya adalah valuasi sejumlah saham unggulan yang telah terkoreksi cukup dalam. Sektor perbankan besar, misalnya, memiliki likuiditas tinggi dan menjadi salah satu kelompok saham yang paling mudah menjadi tujuan alokasi dana institusi global.

Selain itu, pasar Indonesia memiliki eksposur kuat terhadap komoditas dan ekonomi domestik yang besar. Kombinasi tersebut membuat Indonesia tetap menjadi salah satu pasar yang diperhitungkan ketika investor global melakukan diversifikasi aset di Asia.

Meski demikian, narasi bahwa dana asing pasti meninggalkan Amerika Serikat dan secara otomatis akan mengalir ke Indonesia perlu disikapi hati-hati. Perpindahan modal global sangat bergantung pada valuasi, pertumbuhan laba, suku bunga, nilai tukar, risiko geopolitik, serta prospek ekonomi masing-masing negara.

Korea dan Jepang Menghadapi Tantangan Berbeda

Korea Selatan juga menghadapi persoalan tersendiri. Pasar saham negara tersebut sangat dipengaruhi perusahaan teknologi raksasa seperti Samsung Electronics dan SK Hynix. Artinya, pergerakan kedua saham tersebut dapat memberikan pengaruh besar terhadap sentimen pasar Korea.

Sementara Jepang menghadapi persoalan berbeda. Kenaikan valuasi saham dan perubahan arah kebijakan moneter menjadi faktor yang harus diperhatikan investor. Pelemahan yen juga dapat memengaruhi keputusan investor global ketika menghitung imbal hasil investasi dalam denominasi dolar.

Karena itu, investor tidak semata-mata mencari pasar yang sedang turun, tetapi membandingkan harga, prospek laba, risiko, dan potensi imbal hasil antarnegara.

IHSG Masih Belum Aman

Kondisi terbaru menunjukkan IHSG belum sepenuhnya keluar dari tekanan. Pada Senin (10/8), indeks turun 0,69 persen ke 6.365,37 meskipun asing mencatat net buy sekitar Rp829,7 miliar di seluruh pasar.

Untuk perdagangan Selasa (11/8), sejumlah analis memperkirakan IHSG masih berpotensi mengalami koreksi terbatas. Area 6.300-6.320 menjadi salah satu support yang perlu diperhatikan, sedangkan 6.400-6.440 menjadi area resistance.

Artinya, sinyal masuknya kembali dana asing belum cukup untuk menyatakan IHSG telah memasuki tren kenaikan baru.

Investor masih perlu melihat apakah arus dana asing mampu bertahan selama beberapa pekan dan apakah pembelian tersebut menyebar ke saham-saham berkapitalisasi besar, bukan hanya terkonsentrasi pada saham tertentu.

Pasar saham Indonesia kini berada di fase yang menentukan. Setelah mengalami tekanan hebat pada paruh pertama 2026, munculnya net buy asing menjadi sinyal positif, tetapi belum menjadi jaminan pembalikan tren.

Jika arus dana asing berlanjut, terutama ke saham-saham unggulan dengan fundamental kuat, IHSG berpeluang membangun kembali momentum kenaikan.

Sebaliknya, apabila net buy hanya bersifat sementara dan investor asing kembali melakukan aksi jual, tekanan terhadap IHSG berpotensi muncul kembali.**

Topik:

Edison Efrizal

Penulis

Video Terbaru

Asing Mulai Masuk Lagi, Bursa RI Jadi Kandidat Rebutan Dana Global | Monitor Indonesia