Jakarta, MI - Rupiah kembali mendapat tekanan. Mata uang Garuda ditutup melemah 0,60% ke level Rp17.861 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (11/8/2026).
Pelemahan rupiah terjadi saat mayoritas mata uang Asia juga tertekan terhadap dolar AS. Peso Filipina menjadi yang paling dalam melemah 0,84%, diikuti baht Thailand 0,45%, dolar Taiwan 0,22%, rupee India 0,15%, ringgit Malaysia 0,03%, dan yuan China 0,02%.
Analis Doo Financial Futures menilai kembali memanasnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu tekanan terhadap rupiah. Risiko tersebut berpotensi mendorong harga minyak mentah dunia naik.
"Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang kembali menaikkan harga minyak mentah dunia," ujarnya, Selasa (11/8/2026).
Rupiah dan peso Filipina dinilai menjadi mata uang yang cukup rentan karena kedua negara memiliki eksposur besar terhadap impor minyak mentah. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan dolar sekaligus menekan mata uang domestik.
Dari dalam negeri, pasar turut mencermati data penjualan ritel Indonesia yang diproyeksikan tumbuh 1,8%.
Sebelumnya, Doo Financial Futures memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.750-Rp17.850 per dolar AS. Namun, rupiah akhirnya ditutup di atas batas atas proyeksi tersebut pada Rp17.861 per dolar AS.
