BREAKINGNEWS

Harga Minyak Melonjak, Investor Mulai Lirik Energi Baru dan Logam Baterai

Harga Minyak Melonjak, Investor Mulai Lirik Energi Baru dan Logam Baterai
Pompa minyak

Jakarta, MI – Lonjakan harga minyak mentah global mulai mengubah peta perhatian investor terhadap sektor energi. Di tengah tekanan geopolitik yang mendorong harga minyak mendekati US$90 per barel, pasar mulai kembali memperhitungkan prospek energi baru serta komoditas strategis seperti litium, kobalt, dan nikel.

Harga Brent pada perdagangan 11 Agustus 2026 berada di kisaran US$88–89 per barel. Kenaikan tersebut terjadi ketika pasar mencermati ketegangan Amerika Serikat dan Iran serta risiko terhadap pasokan energi global. Reuters melaporkan harga minyak kembali menguat pada Selasa setelah sebelumnya melonjak tajam.

Di sisi lain, pasar saham China memperlihatkan perhatian yang kuat terhadap sektor energi baru. Indeks CSI New Energy tercatat menguat sekitar 1,94 persen pada data perdagangan terbaru, sementara indeks Shanghai Composite berada di sekitar 3.953 poin.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa investor mulai melihat energi baru bukan hanya sebagai isu transisi energi, tetapi sebagai sektor strategis ketika energi fosil menghadapi risiko harga dan pasokan.

Sorotan juga mengarah ke kelompok logam yang menjadi bahan baku utama industri baterai. Harga dan prospek litium, kobalt, serta nikel kembali menjadi perhatian setelah pasar komoditas baterai mengalami pemulihan dari titik rendah 2024-2025.

Namun, momentum tersebut tidak berarti seluruh komoditas baterai otomatis akan mengalami lonjakan harga. Pasar tetap menghadapi persoalan pasokan, perubahan teknologi baterai, hingga pergeseran dari baterai berbasis nikel ke kimia lain seperti LFP.

NCKL di Tengah Perburuan Logam Baterai

Di Indonesia, salah satu emiten yang berada langsung dalam rantai industri nikel adalah PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel.

NCKL memiliki kegiatan dari sisi hulu hingga hilir dan mengembangkan fasilitas pengolahan nikel di Pulau Obi, Maluku Utara. Model terintegrasi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat emiten ini mendapat perhatian ketika investor kembali melihat prospek rantai pasok mineral strategis.

Kinerja operasional NCKL juga masih menunjukkan ekspansi. Laporan riset NH Korindo menyebut penjualan bijih nikel NCKL pada kuartal I 2026 meningkat 67 persen secara tahunan menjadi 9,15 juta wet metric ton. Penjualan feronikel juga meningkat 22 persen menjadi 53.666 ton.

Perusahaan juga telah menyelesaikan pembangunan 12 jalur produksi RKEF KPS dengan kapasitas terpasang 185.000 ton kandungan nikel dalam bentuk feronikel per tahun, dengan sejumlah fasilitas memasuki tahap peningkatan utilisasi.

Di pasar saham, NCKL justru bergerak dalam tekanan pada Selasa (11/8/2026). Data pasar menunjukkan saham NCKL berada di sekitar Rp915, turun 1,59 persen dari penutupan sebelumnya Rp930. Rentang perdagangan hari itu berada di Rp905-Rp940.

Tekanan NCKL terjadi ketika IHSG juga ditutup melemah 1,53 persen ke level 6.267,88. Artinya, prospek jangka panjang sektor nikel tidak otomatis membuat harga saham bergerak naik setiap hari karena tetap dipengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan.

Solid-State Bukan Jaminan Harga Nikel Meroket

Narasi mengenai baterai solid-state menjadi salah satu katalis jangka panjang yang menarik perhatian industri. Teknologi tersebut memang terus dikembangkan dan berpotensi meningkatkan kepadatan energi serta aspek keselamatan baterai.

Namun, solid-state battery tidak secara otomatis berarti kebutuhan nikel akan melonjak. Komposisi material katoda bergantung pada teknologi yang digunakan. Sebagian desain baterai solid-state dapat menggunakan material katoda berbasis nikel, tetapi tidak semua teknologi solid-state membutuhkan nikel dalam jumlah besar.

Karena itu, proyeksi bahwa produksi massal baterai solid-state pada 2027 akan langsung membuat harga nikel melonjak tajam perlu ditempatkan sebagai skenario investasi, bukan kepastian.

Faktor yang lebih menentukan harga nikel tetap mencakup keseimbangan pasokan dan permintaan global, kebijakan produksi Indonesia, pertumbuhan kendaraan listrik, perkembangan industri stainless steel, kebutuhan baterai, serta arah teknologi baterai.**

Topik:

Edison Efrizal

Penulis

Video Terbaru

Harga Minyak Melonjak, Investor Mulai Lirik Energi Baru dan Logam Baterai | Monitor Indonesia