BREAKINGNEWS

Harga Emas Melemah, Investor Menunggu Data Inflasi AS

Harga Emas Melemah, Investor Menunggu Data Inflasi AS
Harga emas dunia bergerak melemah di tengah penantian data inflasi AS (Foto: Ist)

Jakarta, MI - Harga emas dunia bergerak tipis pada perdagangan Selasa (11/8/2026), setelah sempat melesat ke level tertinggi dalam lebih dari dua bulan. Pergerakan emas tertahan karena investor memilih wait and see menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang bisa menjadi penentu arah suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Mengutip Rabu (12/8/2026), harga emas spot turun 0,4% menjadi US$4.367,57 per ons. Padahal, emas sempat menyentuh US$4.434,84 per ons, level tertinggi sejak 5 Juni.

Berbeda dengan pasar spot, kontrak berjangka emas AS naik 0,2% menjadi US$4.430,2 per ons.

Data inflasi AS menjadi perhatian utama karena berpotensi mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed. Jika inflasi kembali lebih panas dari perkiraan, ruang bagi bank sentral AS untuk menurunkan suku bunga akan semakin terbatas, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga.

"Data inflasi mendatang akan sangat memengaruhi prospek suku bunga AS. Angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat menjadi alasan kuat untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed berikutnya dan, sebagai dampaknya, memberikan tekanan penurunan lebih lanjut pada harga emas," ujar Ekonom Iklim dan Komoditas Capital Economics, Hamad Hussain.

Pasar kini menunggu data harga konsumen AS yang akan dirilis Rabu, kemudian disusul data harga produsen pada Kamis.

Kedua data tersebut bakal menjadi bahan utama investor untuk memperkirakan langkah The Fed berikutnya.

Ekspektasi kenaikan suku bunga pada September pun mulai meningkat. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga saat ini mendekati 50%, naik dari 44% pada Senin.

Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack juga memberikan sinyal hawkish. Pada Senin, dia mengatakan saat ini merupakan waktu yang tepat bagi The Fed untuk mulai menaikkan suku bunga secara bertahap guna menghindari kebutuhan menaikkan suku bunga yang lebih tajam di kemudian hari.

Emas Dihadapkan pada Suku Bunga dan Geopolitik

Emas selama ini menjadi salah satu aset yang diburu ketika inflasi meningkat. Namun, ketika suku bunga berada di level tinggi, daya tarik emas bisa berkurang karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil.

Dari pasar global, ketidakpastian geopolitik juga masih menjadi perhatian. Presiden AS Donald Trump merespons syarat Iran terkait kesepakatan damai dengan menuntut Teheran membayar kompensasi bagi korban tewas akibat perang, serangan, dan protes.

Pernyataan tersebut kembali menambah ketidakpastian terkait upaya pembukaan kembali Selat Hormuz.

Di tengah tekanan tersebut, prospek logam mulia mulai menunjukkan perbaikan. Analis Saxo Bank Ole Hansen menilai permintaan struktural yang tetap kuat mampu menahan koreksi harga agar tidak semakin dalam.

"Prospek logam mulia menunjukkan tanda-tanda perbaikan, terutama didukung oleh permintaan struktural berkelanjutan yang membantu mencegah koreksi lebih dalam, sementara lingkungan makro menjadi lebih mendukung dan investor Barat mulai menunjukkan tanda-tanda awal untuk kembali masuk ke pasar," kata Hansen.

Sementara itu, logam mulia lainnya bergerak melemah. Harga perak spot turun 1,5% menjadi US$64,73 per ons, platinum turun 0,7% menjadi US$1.740,06 per ons, sedangkan paladium melemah 1,4% menjadi US$1.363,42 per ons.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru

Harga Emas Melemah, Investor Menunggu Data Inflasi AS | Monitor Indonesia