Jakarta, MI - Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (12/8/2026). Mata uang Garuda kini sudah tertekan selama dua hari berturut-turut.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup turun 0,20% ke level Rp17.865 per dolar AS. Sehari sebelumnya, rupiah juga melemah 0,45% hingga berada di Rp17.830 per dolar AS.
Tekanan rupiah bahkan semakin besar dibandingkan saat pembukaan. Rupiah memulai perdagangan dengan pelemahan 0,06% di level Rp17.840 per dolar AS, lalu kehilangan 25 poin hingga akhir perdagangan.
Sementara itu, dolar AS bergerak relatif stabil. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama naik tipis 0,03% ke level 99,856 pada pukul 15.00 WIB.
Pasar Menanti Inflasi AS
Investor masih mengambil sikap wait and see menjelang rilis data inflasi konsumen AS periode Juli pada Rabu waktu setempat.
Data inflasi tersebut menjadi salah satu penentu arah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Pasar kini mencoba membaca apakah bank sentral AS akan mempertahankan atau mengubah suku bunga pada September.
Laporan ketenagakerjaan AS yang sebelumnya lebih lemah dari perkiraan memang membuka ruang bagi The Fed untuk menahan suku bunga. Namun, inflasi yang masih menjadi ancaman membuat arah kebijakan moneter belum sepenuhnya jelas.
Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee mengatakan perhatian bank sentral saat ini lebih tertuju pada risiko inflasi yang terlalu tinggi ketimbang pelemahan pasar tenaga kerja.
Pasar kini memperhitungkan peluang sebesar 52% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada September, sedangkan probabilitas kenaikan 25 basis poin berada di level 48%.
Tekanan inflasi juga berpotensi meningkat setelah harga minyak naik menyusul serangan terhadap jalur pelayaran penting di Timur Tengah. Jika harga energi terus naik, tekanan inflasi bisa bertahan lebih lama dan ikut menopang dolar AS.
Pasar Pantau Calon Gubernur BI
Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada proses pergantian Gubernur Bank Indonesia (BI).
Presiden Prabowo Subianto telah mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI. Sosok yang nantinya memimpin bank sentral akan menjadi perhatian pasar karena berkaitan dengan arah kebijakan moneter dan stabilitas rupiah.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan rekam jejak dan pengalaman panjang Destry di sektor ekonomi serta keuangan menjadi pertimbangan utama pemerintah.
"Beliau juga dua kali, dua periode menjadi Deputi Gubernur Senior. Itu salah satu alasan yang paling mendasar, tentunya kompetensi," katanya.
Nama Destry telah diserahkan kepada DPR melalui Surat Presiden untuk menjalani uji kepatutan dan kelayakan.
Pemerintah juga telah mengajukan kandidat Deputi Gubernur Senior dan Deputi Gubernur BI. Namun, nama-nama tersebut belum diumumkan secara resmi oleh DPR.
