BREAKINGNEWS

Wall Street Bergerak Tipis, Emas Tembus US$4.500 di Tengah Tekanan Inflasi dan Utang AS

Wall Street Bergerak Tipis, Emas Tembus US$4.500 di Tengah Tekanan Inflasi dan Utang AS
Pasar saham Amerika Serikat (AS) bergerak fluktuatif

Jakarta, MI – Pasar saham Amerika Serikat (AS) bergerak fluktuatif namun relatif terbatas pada perdagangan Rabu waktu setempat. Tiga indeks utama Wall Street menunjukkan arah berbeda, sementara saham-saham sektor chip dan penyimpanan kembali mencatat penguatan tajam.

Pergerakan tersebut terjadi setelah pasar mencermati rilis data inflasi konsumen AS atau Consumer Price Index (CPI) Juli 2026. Inflasi tahunan AS tercatat 3,4%, turun dari 3,5% pada Juni dan sesuai dengan ekspektasi pasar. 

Secara bulanan, CPI AS naik 0,1%. Sementara CPI inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi meningkat 0,2%. Data tersebut menunjukkan tekanan inflasi masih ada, tetapi belum memberikan kejutan besar bagi pasar. 

Peluang Kenaikan Suku Bunga Fed Menyusut

Rilis CPI turut mengubah ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan Federal Reserve. Probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September kembali menurun.

Data pasar yang dikutip MarketWatch menunjukkan peluang kenaikan 25 basis poin pada September turun menjadi sekitar 41,9%, dari 46,1% sebelum data CPI dirilis.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memberikan ruang bagi emas untuk kembali menguat. Harga emas bahkan berhasil menembus US$4.500 per troy ounce untuk pertama kalinya dalam sekitar dua bulan. 

Penguatan emas menjadi semakin menarik karena investor tidak hanya mencermati arah suku bunga AS, tetapi juga persoalan struktural berupa peningkatan utang pemerintah AS dan risiko pelemahan dolar dalam jangka panjang.

Utang AS Jadi Perhatian Investor

Beban utang AS terus menjadi salah satu persoalan utama yang diperhatikan pasar global. Data Joint Economic Committee Senat AS mencatat total utang pemerintah AS mencapai sekitar US$39,83 triliun per 5 Agustus 2026. Data resmi Treasury AS juga mencatat posisi utang pemerintah secara harian melalui sistem Debt to the Penny.

Dengan kondisi tersebut, tren emas dalam jangka menengah hingga panjang dinilai masih memiliki dasar fundamental yang kuat.

Logikanya, semakin besar beban utang dan kebutuhan pembiayaan pemerintah, semakin besar pula perhatian investor terhadap risiko penurunan daya beli mata uang. Dalam situasi seperti itu, emas kembali dipandang sebagai aset lindung nilai.

Bank-bank sentral dunia juga terus meningkatkan perhatian terhadap emas sebagai bagian dari diversifikasi cadangan devisa. Pembelian emas oleh bank sentral menjadi salah satu faktor pendukung permintaan emas global. Reuters sebelumnya mencatat bank sentral China meningkatkan pembelian emas pada Juli, dengan tambahan terbesar sejak Oktober 2023. 

Dengan inflasi AS mulai melandai, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berkurang, dan harga emas berhasil melewati level psikologis US$4.500, ruang penguatan emas masih terbuka.**

Topik:

Edison Efrizal

Penulis

Video Terbaru

Wall Street Bergerak Tipis, Emas Tembus US$4.500 di Tengah Tekanan Inflasi dan Utang AS | Monitor Indonesia