Jakarta, MI— Pasar saham Indonesia mengawali pekan dengan sentimen yang relatif kuat setelah IHSG berhasil menembus kembali level psikologis 6.400 pada perdagangan Jumat (14/8/2026). Penguatan kali ini menarik karena motor kenaikan bukan berasal dari sektor perbankan, melainkan saham energi, mineral, dan emas.
IHSG ditutup di level 6.401,89, melonjak 100,12 poin atau 1,59% dalam sehari. Kenaikan tersebut membawa indeks kembali melewati batas psikologis 6.400 setelah sehari sebelumnya ditutup di level 6.301.
Pergerakan tersebut menunjukkan mulai munculnya rotasi minat investor ke sektor komoditas. Saham pertambangan, energi, dan emas menjadi penopang penting ketika saham-saham perbankan tidak menjadi penggerak utama indeks.
Namun, penguatan IHSG belum sepenuhnya menunjukkan pasar berada dalam kondisi tanpa tekanan. Investor asing masih mencatat net sell sekitar Rp1,03 triliun pada perdagangan Jumat. Di pasar reguler, aksi jual bersih asing mencapai sekitar Rp396,50 miliar.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah saham komoditas justru menjadi sasaran pembelian asing. Timah mencatat net buy asing sekitar Rp110 miliar, BRI sekitar Rp93,8 miliar, dan Aneka Tambang sekitar Rp62 miliar.
Emas Kembali Menguat
Pergerakan emas global juga menjadi perhatian. Setelah sempat mengalami koreksi tajam akibat aksi ambil untung dan perubahan ekspektasi suku bunga, harga emas kembali menguat.
Harga spot emas pada awal perdagangan Senin (17/8) berada di kisaran US$4.400 per troy ounce. Data lain menunjukkan emas sempat menembus area US$4.500 pada pekan sebelumnya sebelum terkoreksi.
Kondisi tersebut membuat level US$4.500 kembali menjadi perhatian pasar. Sejumlah proyeksi pasar untuk pekan ini juga menempatkan level tersebut sebagai salah satu target penting apabila momentum penguatan berlanjut.
Penguatan emas ditopang oleh kombinasi ketidakpastian geopolitik, perubahan ekspektasi kebijakan Federal Reserve, serta permintaan aset lindung nilai. Data terbaru menunjukkan spot gold masih berada di sekitar US$4.394 per troy ounce pada 17 Agustus.
Minyak Masih Panas
Pasar energi juga menghadapi tekanan kenaikan. Harga Brent berada di kisaran US$88,7-US$89 per barel, sedangkan WTI sekitar US$82,3 per barel pada awal pekan.
Gejolak geopolitik di Timur Tengah, terutama ketidakpastian terkait Selat Hormuz, menjadi salah satu faktor utama yang menjaga harga minyak tetap tinggi. Selat tersebut merupakan jalur penting bagi arus perdagangan minyak global.
Tekanan juga datang dari posisi cadangan strategis minyak Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS turun sekitar 6,1 juta barel menjadi sekitar 298,7 juta barel, level terendah sejak 1983 dan untuk pertama kalinya berada di bawah 300 juta barel dalam lebih dari empat dekade.
Meski demikian, prospek minyak tidak sepenuhnya satu arah. Persediaan minyak mentah komersial AS justru melonjak 17,4 juta barel menjadi 424,4 juta barel pada pekan yang berakhir 7 Agustus. Kenaikan tersebut menjadi faktor yang dapat menahan laju kenaikan harga minyak dalam jangka pendek.
Dengan demikian, pasar memasuki pekan baru dengan tiga tema besar: IHSG berusaha mempertahankan level 6.400, emas kembali menguji zona US$4.500, sementara minyak bertahan di level tinggi akibat risiko geopolitik.
Bagi investor, kondisi tersebut menunjukkan peluang mulai bergeser ke sektor berbasis komoditas. Namun, volatilitas masih tinggi sehingga penguatan indeks perlu dikonfirmasi oleh arus dana dan kinerja sektoral, bukan hanya lonjakan satu hari.**
