BREAKINGNEWS

Emas dan Minyak Menguat, Tapi Asing Masih Jual Saham RI: IHSG Dibayangi Rebalancing MSCI

Emas dan Minyak Menguat, Tapi Asing Masih Jual Saham RI: IHSG Dibayangi Rebalancing MSCI
Pasar saham merosot

Jakarta, MI— Penguatan harga emas dan minyak mentah dunia belum otomatis menjadi tenaga baru bagi saham sektor energi dan emas di Bursa Efek Indonesia. Di tengah reli komoditas, pasar saham Indonesia justru masih menghadapi persoalan lebih besar: arus dana asing yang belum stabil dan tekanan rebalancing indeks MSCI pada akhir Agustus.

Harga emas spot pada Senin (17/8/2026) bergerak di sekitar US$4.390 per troy ounce. Reuters mencatat emas naik 0,4% menjadi US$4.391,07 per troy ounce, didorong pelemahan dolar AS dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September. 

Harga minyak juga masih berada pada level tinggi. Brent sempat berada di sekitar US$88,50 per barel, sedangkan minyak mentah AS berada di kisaran US$82,12 per barel. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan gangguan arus minyak melalui Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang menopang harga. 

Kondisi tersebut secara fundamental menjadi sentimen positif bagi emiten yang memiliki eksposur besar terhadap emas maupun minyak. Kenaikan harga komoditas dapat memperbaiki prospek pendapatan dan margin perusahaan, terutama jika harga jual meningkat lebih cepat dibandingkan biaya produksi.

Namun, efeknya terhadap harga saham tidak otomatis.

Pergerakan saham tetap sangat bergantung pada sentimen pasar, valuasi, likuiditas, serta arus dana investor asing dan domestik.

IHSG Naik, Asing Belum Sepenuhnya Kembali

Kekhawatiran itu terlihat dari perdagangan pekan lalu. Pada Kamis (13/8), IHSG anjlok 1,13% ke level 6.301,77. Pada hari yang sama, investor asing mencatatkan net sell sekitar Rp1,39 triliun di pasar reguler. 

Sehari berselang, IHSG memang bangkit. Pada Jumat (14/8), indeks melonjak 1,59% atau 100,12 poin ke level 6.401,89. Namun, penguatan indeks tersebut tetap berlangsung di tengah aksi jual asing, sehingga kenaikan IHSG belum dapat dibaca sebagai tanda bahwa arus modal global telah kembali secara kuat ke pasar saham Indonesia. 

Data tersebut memperlihatkan satu persoalan penting: IHSG bisa menguat ketika investor domestik menjadi penopang transaksi, tetapi keberlanjutan reli akan lebih sulit jika tidak diikuti arus modal asing yang konsisten.

Otoritas Jasa Keuangan sebelumnya memang mencatat investor asing telah berbalik membukukan net buy Rp1,62 triliun sepanjang Juli 2026. Namun, kondisi perdagangan Agustus menunjukkan investor asing masih selektif dan mudah melakukan aksi jual ketika risiko pasar meningkat. 

Dengan demikian, kenaikan IHSG belum cukup menjadi bukti bahwa fenomena sell Indonesia telah berakhir.

Rebalancing MSCI Jadi Ancaman Berikutnya

Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada 31 Agustus 2026. MSCI telah menetapkan perubahan hasil August 2026 Index Review berlaku pada penutupan perdagangan 31 Agustus dan efektif mulai 1 September. 

Dalam tinjauan tersebut, tidak ada saham Indonesia yang ditambahkan ke MSCI Global Standard Index. Sebaliknya, dua saham Indonesia dikeluarkan dari indeks tersebut. Salah satunya diturunkan ke Global Small Cap Index, sementara sejumlah saham Indonesia lainnya juga terkena perubahan pada indeks kapitalisasi kecil. 

MSCI sebelumnya juga mempertahankan pembekuan perubahan tertentu terhadap saham Indonesia. Kondisi ini membuat ruang masuknya saham-saham baru Indonesia ke indeks global tetap terbatas. 

Salah satu nama besar yang terdampak adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). MSCI memutuskan menghapus GOTO dari indeksnya pada akhir Agustus karena persoalan likuiditas saham, bukan semata-mata persoalan fundamental bisnis perusahaan. 

Konsekuensinya, aksi penyesuaian portofolio berpotensi kembali meningkatkan volatilitas menjelang dan saat penutupan perdagangan 31 Agustus.

Emas dan Energi Bisa Menguat, Tapi Tidak Serentak

Di tengah tekanan tersebut, saham sektor emas dan energi tetap memiliki katalis tersendiri.

Harga emas bahkan telah menunjukkan momentum kuat. Data perdagangan global menunjukkan emas berada di sekitar US$4.394 per troy ounce pada 17 Agustus, naik sekitar 9,6% dalam sebulan dan lebih dari 31% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Bagi perusahaan tambang emas, harga jual yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan pendapatan dan laba, terutama bagi emiten dengan biaya produksi yang relatif terkendali.

Hal serupa berlaku pada emiten minyak dan energi. Harga Brent yang bertahan di sekitar US$88-US$89 per barel memberikan ruang positif bagi perusahaan yang sensitif terhadap harga komoditas. Namun, kenaikan harga minyak juga membawa risiko berupa inflasi, biaya energi yang lebih tinggi, serta potensi tekanan terhadap konsumsi dan pertumbuhan ekonomi.

Artinya, kenaikan harga komoditas tidak serta-merta membuat seluruh saham energi dan emas bergerak naik. Investor tetap akan memilih emiten berdasarkan fundamental, prospek laba, valuasi, produksi, utang, serta likuiditas saham.

Pasar Masih Harus Waspada

Kondisi pasar saat ini menunjukkan dua kekuatan yang saling berhadapan. Di satu sisi, harga emas dan minyak memberikan katalis positif bagi saham komoditas. Di sisi lain, arus dana asing yang masih fluktuatif dan agenda rebalancing MSCI berpotensi menjadi sumber tekanan baru.

Karena itu, reli IHSG di atas level 6.400 belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pasar telah memasuki tren kenaikan yang solid.

Justru periode menuju 31 Agustus perlu dicermati ketat. Jika aksi jual asing kembali membesar bersamaan dengan penyesuaian portofolio MSCI, tekanan terhadap saham-saham tertentu dapat meningkat dan berpotensi menyeret indeks.

Bagi investor, persoalan utama bukan sekadar apakah emas dan minyak terus naik. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah kenaikan komoditas tersebut mampu menarik kembali dana asing ke saham Indonesia.**

Topik:

Edison Efrizal

Penulis

Video Terbaru

Emas dan Minyak Menguat, Tapi Asing Masih Jual Saham RI: IHSG Dibayangi Rebalancing MSCI | Monitor Indonesia