Jakarta, MI– Saham PT RMK Energy Tbk (RMKE) mulai menarik perhatian di tengah menguatnya sentimen terhadap sektor energi. Kombinasi kinerja fundamental yang melonjak, harga saham yang relatif rendah, serta meningkatnya perhatian investor terhadap saham batu bara membuat RMKE memiliki ruang untuk kembali menjadi perhatian pasar.
RMKE memiliki bisnis utama di sektor logistik batu bara, perdagangan batu bara, dan infrastruktur pendukung. Struktur bisnis tersebut membuat pergerakan harga dan aktivitas industri batu bara menjadi faktor penting bagi prospek perseroan.
Dari sisi pasar, saham RMKE pada 19 Agustus 2026 tercatat bergerak di sekitar Rp428 per saham, setelah penutupan sebelumnya Rp414. Rentang perdagangan intraday berada di kisaran Rp408-Rp440.
Pergerakan tersebut menunjukkan adanya peningkatan minat terhadap saham RMKE. Namun, kenaikan harga tidak otomatis berarti tren bullish akan berlanjut karena volatilitas saham komoditas tetap tinggi.
Dana Mulai Mengarah ke Batu Bara
Salah satu katalis yang membuat RMKE menarik adalah meningkatnya perhatian terhadap saham-saham batu bara. Pergerakan saham pembanding seperti TEBE yang menguat tajam dalam dua sesi perdagangan turut menjadi sinyal bahwa minat spekulatif terhadap sektor batu bara mulai kembali muncul.
Dalam kondisi tersebut, RMKE memiliki daya tarik tersendiri karena harga sahamnya masih berada jauh di bawah level tertinggi 52 minggunya. Data pasar menunjukkan rentang 52 minggu RMKE berada di Rp145-Rp1.900.
Artinya, ruang kenaikan secara historis memang masih terbuka. Namun, jarak yang lebar dari level tertinggi juga menunjukkan bahwa saham ini memiliki volatilitas yang tinggi dan tidak lepas dari risiko koreksi.
Daya tarik RMKE tidak hanya bertumpu pada spekulasi pasar. Fundamental perseroan juga menunjukkan perbaikan signifikan.
RMKE membukukan laba bersih sekitar Rp163,1-Rp163,3 miliar pada semester I 2026. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laporan perusahaan mencatat pertumbuhan laba sekitar 86,2% secara tahunan, sementara sumber lain mencatat kenaikan 89,58% berdasarkan angka pembanding yang digunakan.
Pendapatan usaha juga melonjak 176,68% menjadi sekitar Rp1,59 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang peningkatan volume penjualan serta jasa logistik batu bara.
Yang menarik, kontribusi laba usaha RMKE berasal dari dua mesin utama. Segmen penjualan batu bara menyumbang sekitar 36,3%, sedangkan jasa batu bara memberikan kontribusi sekitar 63,7%.
Kinerja itu memperkuat argumentasi bahwa RMKE bukan semata-mata saham yang bergerak karena sentimen komoditas. Ada pertumbuhan bisnis nyata yang menopang valuasinya.
Sentimen Energi Masih Panas
Dari pasar global, sektor energi juga mendapat perhatian setelah harga minyak kembali menguat. Harga Brent dilaporkan berada di sekitar US$91,20 per barel, naik 0,4% dan mencatat penguatan untuk sesi ketiga berturut-turut.
Di sisi lain, kenaikan yield Treasury AS membuat pasar saham global lebih bergejolak. Yield obligasi AS tenor 10 tahun berada sekitar 4,71% pada 18 Agustus 2026, sementara pasar global masih menghadapi tekanan akibat kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah utama.
Kondisi tersebut membuat investor semakin selektif dalam mencari sektor yang memiliki dukungan fundamental dan mampu mengambil manfaat dari tingginya harga komoditas.
Bagi RMKE, situasi tersebut menjadi katalis yang patut diperhatikan karena bisnisnya bersinggungan langsung dengan rantai pasok batu bara.
Dengan demikian, cerita RMKE saat ini bertumpu pada tiga faktor: momentum sektor batu bara, valuasi harga saham yang masih relatif rendah, dan lonjakan fundamental perusahaan.
Kenaikan laba hampir dua kali lipat serta pertumbuhan pendapatan yang agresif memberikan dasar fundamental yang lebih kuat bagi saham RMKE. Sementara pergerakan saham batu bara dan harga energi global membuka peluang munculnya arus dana baru ke sektor tersebut.**
